Integrasi Industri Manufaktur dengan Sistem Informasi

Comments 277 Views Views


Integrasi Industri Manufaktur dengan Sistem Informasi

SIPerubahan - Memasuki era digital, langkah Kementerian Perindustrian menerapkan sistem Industry 4.0 dinilai tepat. Alasannya, sistem ini mampu mengintegrasikan industri manufaktur dengan sistem informasi dalam sebuah mata rantai produksi, dimulai desain, produksi, pelayanan, hingga perbaikan.

Selain memudahkan produksi industri, sistem ini juga mampu membuka peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik serta membutuhkan kompetensi tinggi. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara, menjelaskan sistem ini nantinya akan memunculkan jenis pekerjaan baru seperti pengelola dan analis data digital atau tenaga yang mampu mengoperasikan robot untuk produksi industri.

“Pekerjaan nanti tidak hanya di manufaktur saja, akan berkembang ke supply chain, logistik, R&D. Selain itu, yang di sektor manufaktur juga perlu rescaling atau up-scaling untuk memenuhi kebutuhan,” jelasnya ketika mewakili Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di kuliah umum Universitas Gajah Mada, belum lama ini. 

Ngakan juga memaparkan ada beberapa syarat bagi industri untuk mewujudkan Industry 4.0. Diantaranya ketersediaan sumber daya listrik yang kuat, jaringan internet dengan bandwidth yang cukup besar dan jangkauan luas, database yang aman, dan kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung berjalanannya proses industry 4.0 di dalam industri.

Proses tersebut tentu menuntut adanya kolaborasi antara pemerintah dengan industri. Ngakan menerangkan, di tahun 2018 pihaknya akan menggencarkan sosialisasi terkait revolusi Industry 4.0.

Dan yang tidak boleh dilupakan, menurut ia, satu syarat mutlak untuk mewujudkan sistem Industry 4.0 yaitu kualitas SDM. Tantangannya bagaimana mensosialisasikan, memperoleh, dan meningkatkan SDM melalui program link and match antara industri dengan vokasi.

“Kami juga punya beberapa balai diklat yang bisa dipakai oleh industri untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerjanya,” jelas Ngakan.

Di kesempatan yang berbeda, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memaparkan era revolusi industri keempat tidak bisa lagi dihindari. Untuk itu, pihaknya membuat road map Industry 4.0 dan mensosialisasikan ke seluruh stakeholders agar siap menghadapi dan memanfaatkan kesempatan tersebut.

“Kami juga sedang mempelajari dari negara-negara lain yang telah menerapkannya, sehingga bisa kita kembangkan Industry 4.0 dengan kebijakan berbasis kepentingan industri dalam negeri,” ujarnya.

Perihal sektor yang diprioritaskan dan menjadi percontohan dalam penerapan Industry 4.0, pihak Kemenperin memaparkan ada lima industri, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia.

Alasannya kelima sektor tersebut diprediksi pada tahun 2030 akan berkontribusi sebesar 70 persen dari total PDB manufaktur, 60 persen untuk ekspor manufaktur dan 65 persen peningkatan pada jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus