Perlukah Studi Banding ke Luar Negeri untuk Guru?


Perlukah Studi Banding ke Luar Negeri untuk Guru?

BGMD PPI Dunia, (2/12)- Hasil survei yang dilakukan oleh tim kepanitiaan Bantu Guru Melihat Dunia (BGMD) PPI Dunia komisi pendidikan mengenai “perlukah studi banding ke luar negeri untuk guru?” Sejauh ini menunjukkan para responden menyatakan bahwa studi banding ke luar negeri untuk guru, perlu dilakukan.

 

Survei yang bertujuan untuk mengetahui pendapat terhadap studi banding ke luar negeri ini dilakukan dari tanggal 25 hingga 26 Desember 2017, dengan menjawab beberapa pertanyaan yang tersedia di google forms. Penyebaran informasi survei ini dilakukan dengan menggunakan berbagai wadah sosial media PPI Dunia. Dari survei ini, didapatkan 220 responden dengan mayoritas perempuan (52.3%) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan di luar negeri.

 

Dari hasil survei tersebut, berikut ini beberapa pendapat dari para responden yang menyatakan bahwa studi banding keluar negeri tidak diperlukan (10 %).

 

Tidak perlu karena…

1. Standar guru di berbagai wilayah di  Indonesia berbeda

“Indonesia merupakan negara kepulauan. Perlu atau tidaknya seorang guru studi banding ke luar negri tergantung di mana guru tersebut mengajar, misalnya di bagian timur Indonesia (NTT,  Maluku, Papua) standar guru beda dengan guru yang ada di pulau Jawa. Kalau guru-guru yang ada di pulau Jawa mungkin masih wajar jika melakukan studi banding ke luar negeri, itupun hanya di kota-kota besar yang mempunyai fasilitas pendidikan yang memadai,  tetapi mayoritas guru ada di luar pulau Jawa dengan kualitas yang tidak seimbang dengan guru yang ada di kota besar.
Dengan kurikulum di Indonesia yang terlalu berubah-ubah maka sangat tidak efektif jika guru-guru di Indonesia harus melakukan studi banding ke luar negeri. Oh iya satu hal lagi, yang menjadi permasalahannya lagi tidak semua guru fasih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar Internasional. Jadi menurut saya tidak perlu guru di Indonesia haru studi banding keluar negeri.”

 

2. Menggunakan dana yang tidak sedikit

“Sepertinya biaya untuk studi banding bisa dialokasikan untuk perbaikan peralatan pendidikan yang banyak belum memadai.”

 

3.  Cukup Menggunakan fasilitas online saja

“Untuk mempelajari sistem pendidikan di luar negeri tidak harus langsung berkunjung, para guru bisa mempelajari studi literatur tentang sistem pendidikan di negara yang menjadi acuan atau dengan berkomunikasi dengan seseorang yang sudah memahami sistem pendidikan tersebut baik itu orang Indonesia maupun orang yang asli negara tersebut, komunikasi juga bisa lewat media komunikasi yang ada skype, WA, BBM atau yang lain. Itu menurut pendapat saya, terimakasih.”

 

4. Cukup ahli pendidikan saja

“Tidak perlu guru yg studi banding secara langsung, cukup beberapa ahli pendidikan yang melakukannya”

 

Mayoritas responden (90%) menyatakan bahwa melakukan studi banding ke luar negeri untuk guru, perlu dilakukan. Berikut ini alasan yang mereka kemukakan:

 

Perlu karena…

 

1.  Memperluas wawasan

“kualitas guru sekarang masih dalam lingkup berkembang. Mengapa demikian? Guru di zaman millenial ini hanya terpicu dengan semboyan datang kemudian mengajar, setelah mengajar pulang. Perlunya guru untuk studi banding keluar negeri agar guru bisa membuka wawasan yang luas bagaimana jiwa seorang guru seharusnya. Sehingga standar seorang guru yang resultnya masih nasional bisa improve ke standar internasional otomatis semangat guru meningkat dan dipenuhi dengan berbagai inspirasi serta metode baru untuk mengajar, siswa semangat, Indonesia bisa bangkit dari sakit yang dialami selama ini”

 

2. Bahan perbandingan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam proses mengajar

“Kebanyakan guru baru yang masih bersifat honorer (baca: baru selesai studi S1 FKIP +/- 2-3 dan kemudian menjadi guru) pasti meniru role mode guru "lama"nya entah itu gurunya ketika sekolah SD-SMA ataupun guru sekolah di mana dia magang/pkl sebelum tamat, sehingga metodenya pun akan selalu sama. Dengan melakukan studi banding keluar negeri "metode" belajar-mengajar yang selama ini dipakai di Indonesia dapat terupgrade dan tentunya akan menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan. ”

 

3.  First- hand experience (Pengalaman langsung)

“Agar guru mendapatkan pengalaman langsung (first-hand experience) dari sesama rekan se-profesi yang berada di luar negeri. Tentunya hal ini akan memperkaya baik pengetahuan dan juga ketrampilan mengajar dari guru tersebut. Terlebih di era globalisasi seperti sekarang ini di mana terjadi revolusi digital dan perkembangan pedagogi jauh berkembang sehingga lahir kebutuhan akan tenaga pengajar yang tidak hanya memiliki passion mengajar/mendidik, namun juga dilengkapi (equipped) dengan knowledge serta skill yang dibutuhkan. Di sisi lain, hal ini juga akan membuka potensi networking antara guru, melampaui batasan ruang dan waktu, juga negara. Hal ini akan menambah jejaring serta engagement para pengajar dengan dunia pendidikan internasional sehingga diharapkan akan lahir metode-metode mengajar/mendidik yang kian efektif dan efisien bagi setiap insan pembelajar siswa/i di Nusantara.”

 

4. Karena belum banyak ahli dari Indonesia

“Studi banding perlu karena Indonesia belum punya cukup ahli yang memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk mengambil keputusan dan menjalankan tugas negara. Kalaupun selama ini studi banding dirasa kurang efektif, yang salah bukan studi bandingnya, melainkan kemampuan belajar orang-orangnya, tempat studi bandingnya, ketidaksesuaian topik studi dengan keadaan di lapangan, dan hal-hal non-teknis lainnya.”

 

Demikianlah hasil survei dan beberapa pendapat yang kami tampilkan dalam menghimpun cara pandang mengenai perlu atau tidak studi banding ke luar negeri untuk guru.

 

Ayo bantu guru melihat dunia!

 

Selaras dengan suara mayoritas hasil survei yang memandang perlunya dilakukan studi banding ke luar negeri untuk guru, serta dengan adanya prioritas program pemerintah Indonesia dalam bidang pendidikan di tahun 2018, yaitu peningkatan kualitas guru, PPI Dunia berinisiatif melaksanakan program "BANTU GURU MELIHAT DUNIA" bagi guru-guru di Indonesia. Dengan berbekal potensi sumber daya manusia dan jaringan PPI Dunia yang tersebar di berbagai negara di dunia diharapkan dapat memberikan alternatif baru dalam peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.

 

Salah satu aktivis PGRI pada tahun 2010 (Ketua 2 Pengurus PGRI Pusat Bidang MGNP 2010), M. Zen, M.Pd memberikan komentar terhadap kegiatan ini sebagai berikut:

“Program ini sangat bagus karena program ini dapat menambah wawasan guru untuk meningkatkan kompetensi yang dapat disalurkankan dari daerah yang dikunjungi atau negara yang dikunjungi ke sekolah asal yang sesuai dengan kondisi budaya sosial di daerah tersebut.”

 

Secara bersamaan, BGMD Komisi pendididikan PPI dunia telah  menyediakan wadah untuk para pemuda bangsa yang ingin ikut berpartisipasi dalam mewujudkan program bantu guru melihat dunia.

Silahkan akses link berikut ini:

https://kitabisa.com/PPIDuniabantuguru/

 

Oleh :

Fadilla Zennifa

-Strategic campaign Bantu guru Melihat Dunia -

Komisi Pendidikan

PPI Dunia

Post a Comments
blog comments powered by Disqus