Menjadikan KRL Ramah Penumpang


Menjadikan KRL Ramah Penumpang

Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter line merupakan salah satu transportasi yang paling diminati masyarakat kota, khususnya mereka yang tinggal di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Alasannya jelas, sebab KRL Commuter line merupakan tranportasi yang cepat, bebas macet, serta murah meriah. Tentu wajar jika transportasi KRL Commuter line menjadi andalan bagi pekerja dan pelajar yang biasa kejar-kejaran dengan waktu.

Direktur PT KCJ, Muhammad Nurul Fadhila mengungkapkan setiap harinya pengguna KRL Commuter line mencapai  kurang lebih 934 ribu orang. Mendengar angka itu, tentu kita bisa bayangkan bagaimana padatnya transportasi yang tersusun dengan rangkaian gerbong tersebut. Untuk membuktikannya kita bisa juga sekali-sekali mencicipi gimana rasanya berada diantara ratusan ribu orang itu.

Ya, meskipun menguji nyali dan mengancam keselamatan karena  padatnya penumpang, namun tranportasi jenis ini tidak pernah kekurangan penumpang, bahkan cenderung setiap harinya kian bertambah.

Desak-desakan hingga sesak nafas, terinjak-injak hingga adu mulut sudah menjadi hal biasa bagi para penumpang KRL Commuter Line. Bahkan tidak hanya itu, kadang ada juga yang sampai berkelahi saling pukul hanya karena memperebutkan tempat duduk.

Misalnya seperti yang sedang viral di media sosial akhir-akhir ini. Dalam sebuah video yang diunggah beberapa waktu lalu itu menunjukkan aksi dua wanita yang sedang adu jambak rambut dan saling tampar di gerbong wanita KRL Commuter line. Alasannya seperti yang penulis katakan tadi, yakni soal perebutan tempat duduk.

PT KCJ memang sengaja mendesain gerbong pertama dan terakhir KRL Commuter line khusus untuk wanita. Hal ini dimaksudkan agar para penumpang wanita memiliki ruang dan kenyamanan sendiri dibanding harus bercampur dengan laki-laki di gebrong umum. Namun kenyataannya maksud tersebut tidak dapat dipahami dengan baik. Justru dengan adanya gerbong wanita ini para penumpang wanita semakin ganas dan anarkis terhadap sesamanya sendiri.

Egois dan tidak peka menjadi salah satu faktor juga yang akhirnya menjadikan para penumpang wanita rela berbuat apapun agar mendapatkan tempat duduk. Berbeda dengan ketika naik di gerbong umum. Wanita yang masih berdiri tentu akan diberi tempat duduk oleh laki-laki. Meskipun dalam kondisi padat sekalipun, jika memungkinkan untuk bergeser laki-laki akan memberikan tempat duduknya untuk para wanita. Eh, tapi ada juga deh yang cuek dan pura-pura tidur, mungkin 1 dari 10 laki-laki lainnya.

Menanggapi video yang sedang ramai diperbincangkan itu, kita tentu berharap agar ada perbaikan fasilitas lagi dari pihak KCJ. Misalnya menambah jumlah gerbong wanita pada rangkaian KRL Commuter line atau sekalian saja tidak usah ada pemisahan mana gerbong wanita dan mana gerbong umum.

Jika kedua hal tersebut tidak memungkinkan, maka PT KCJ harus banyak mengerahkan petugas yang bisa mengarahkan siapa saja orang-orang yang berhak mendapatkan tempat duduk. Misalnya mereka yang sedang hamil, membawa anak, lansia, dan ditambah lagi mereka yang sakit dan memang benar-benar membutuhkan tempat duduk.

Jangan sampai petugas yang seharusnya mengamankan kondisi KRL Commuter line agar para penumpang merasa nyaman dana aman malah sibuk ngobrol dengan petugas lainnya, main handphone atau bahkan sibuk menggoda penumpang KRL yang dirasa cantik. Semoga tragedi seperti di video tersebut tidak ada lagi untuk penumpang-penumpang KRL lainnya. Ke depan pelayanan KRL Commuter Line harus lebih baik dan yang utama ramah dengan penumpangnya.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus