Klaim Kebenaran dan Tuhan 'Maha Tak (suka) Ikut Campur'


Klaim Kebenaran dan Tuhan

Memang sebagai negara yang menganggap religiusitas sebagai ‘maha penting’, mau tidak mau pri kehidupan kita akan selalu beririsan, mempengaruhi-dipengaruhi, dan dibentuk oleh isu-isu yang terjadi di seputar religiusitas. Dengannya, religiusitas dihadirkan pada setiap sendi dan dimensi kehidupan kita, mulai dari cebok hingga kebijakan politik; mulai dari sarapan pagi hingga transaksi bisnis. Demikian melekatnya religiusitas dalam diri dan kehidupan kita, sehingga sulit untuk mendefinisikan identitas keindonesiaan seseorang tanpa mengidentifikasikan kecenderungan keberagamaannya—apa agamanya, sejauh mana ia mengamalkan agamanya.

Sebagai akibatnya, dalam satu dan lain hal, agama menjadi tolak-ukur sekaligus indikator moralitas. Dalam logika (sebagian) umat beragama di Indonesia, menjadi atheis sama dengan kurang atau bahkan tidak bermoral. Padahal, kita tahu bahwa beragama tidak selalu merefleksikan moralitas seseorang. Akan selalu ada orang-orang tertentu yang menggunakan agama sebagai sebatas alat atau kendaraan bagi dia mencapai tujuan-tujuan lain: politis, ekonomis, dan/atau sosial. Bahkan kita, boleh jadi secara a-sadar, meng-agama-i agama kita atas pertimbangan untung-rugi ‘material’.

Penekanan akan penting dan ‘wajib dihadirkannya’ agama dalam seluruh aspek kehidupan kemudian direspon, secara sederhana, dengan dua pendekatan. Ada yang merasa agama terlalu posesif sehingga bergerak ke arah ‘pemisahan’ apa yang disebut ‘urusan-urusan agama’ dan ‘urusan-urusan non agama’. Di sisi lain ada yang merasa ‘pemisahan’ adalah ekspresi kedurhakaan sehingga mereka bergerak semakin konservatif dan literal dalam memahami teks-teks doktrin (ke)agama(an).

Terlepas dari itu, kita tahu bahwa doktrin-doktrin agama senantiasa berbicara tentang klaim kebenaran. Pemisah antara yang haq dan yang bathil. Penerang dari gelap menuju cahaya. Pembebas manusia dari ketidaktahuan dan kesesatan. Tetapi ma huwal kebenaran? Apa itu kebenaran? Apakah Kebenaran yang benar-benar benar itu bersifat Absolut dan Tunggal? Jika ya, bagaimana sebetulnya Kebenaran yang Absolut dan Tunggal itu dapat kita pahami dan implementasikan dalam kehidupan? Atau, apakah Kebenaran itu selalu relatif dan beragam? Jika ya, bagaimana kita mengkonsolidasikan dan mengkomunikasikan klaim-klaim tersebut sehingga didapat titik temu yang sifatnya caina beunang laukna herangwin win solution?

Dan rupanya kita tidak pernah bisa mufakat dalam hal tersebut. Dalam konteks Islam, Nabi Muhammad melegalisasi ijtihad, yang ‘jika benar berpahala dua, jika salah berpahala satu’. Ada pengakomodasian trial-eror dalam upaya pencarian keputusan melalui ijtihad. Dan kita tahu bahwa bahkan walaupun dua orang alim ulama menempuh studi di tempat yang sama, dalam proses ijtihad bisa jadi mereka berbeda pendapat. Dan perbedaan-perbedaan pendapat, keputusan, dan klaim kebenaran itu telah melahirkan beragam corak ekspresi keberislaman yang sebagian amat-sangat moderat, sebagian lagi di tengah-tengah, sebagian lagi ekstrem-radikal.

Memang Nabi sudah meramalkan perbedaan pendapat tersebut, perbedaan klaim kebenaran, sehingga Nabi menegaskan bagaimana perbedaan pendapat di umat itu adalah rahmat. Tetapi, kita tidak bisa menganggap setiap orang cukup dewasa untuk menghormati perbedaan itu, terlebih perbedaan penafsiran dan klaim kebenaran doktrin Islam. Sehingga, kita bisa melihat bagaimana hari-hari kita senantiasa, sejak Nabi meninggal hingga hari ini, dipenuhi perselisihan dan perdebatan (yang lebih sering kusir dan melelahkan) tentang klaim-klaim kebenaran yang berbeda itu. Perselisihan yang tidak jarang berujung darah.

Dari sana kemudian kita menyaksikan beragam ekspresi keberislaman lengkap dengan klaim kebenaran yang diyakini: tradisionalis kultural, modernis skriptural, ultrakonservatif radikal, moderat progresif liberal, Islamis fundamentalis, Sunni-Syiah, Islam ngiri Islam nganan, santri ponpes santri Google, ustad TV kiai kampung, lulusan kobong lulusan Sorbone, anak-didik tarekat anak-kandung Islam doktriner, dan seterusnya mewujud dalam pelbagai organisasi, perkumpulan.

Dengan bantuan sosial media, klaim-klaim itu bisa dibangun dengan menarasikan opini, menggiring dan menggorengnya. Belum lagi dengan framing berita dan/atau hoax demi kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Yang tersisa adalah bola salju perselisihan yang merambat ke mana-mana. Bahkan ketika ‘perselisihan’ soal Ahok dan penistaan agama dipolitisasi di Jakarta, anak kecil di Cianjur sudah hafal syair ‘bunuh Ahok’. Kebencian yang dikultivasi, yang didorong oleh rasa membela klaim kebenaran.

Belum lagi kalau orang-orang ignorance komen, share, dan/atau nulis status. Tanpa data, tanpa prior knowledge yang cukup, tanpa analisa, main babat sana-sini. Kita rupanya belajar pesat dalam urusan mem-bully tetapi tidak naik kelas dalam urusan literasi dan literasi media. Bikin perselisihan dan perdebatan kian bergulir ke arah debat kusir dan persitegangan otot. Bukan lagi debat dan diskusi yang sifatnya watawa saubil haqq watasa soubis sobr. Kadang-kadang berujung darah.

Saya tahu bahwa ketika saya memutuskan untuk ‘terjun’, katakanlah, ke medan perang bernama ‘konter narasi radikal Islam’, isu-isu ini akan lazim saya temui. Tetapi sialnya, saya rupanya masih terlalu hijau dan naif, dan saya belum memiliki keluasan batin semisal Gusdur, sehingga kadang saya merasa mentally draining. Energi saya terserap oleh rasa letih melihat, katakanlah, nasib umat. Tetiba saya jadi ingat ‘keluhan’ saya kepada-Nya ketika saya ‘terjebak’ di Ponpes yang kiainya ultrakonservatif dan judgmental, sehingga saya kehilangan kepercayaan terhadap otoritas ulama.

Hari ini saya mengerti bahwa yang saya maksudkan hari itu adalah kegregetan ihwal bagaimana Beliau seperti ‘tidak mau ikut campur’. Kita seperti anak SD yang berebut dan berdebat ihwal siapa yang (lebih) benar dan Beliau, Maha Guru, melihat kita. Mungkin tersenyum (sayang). Beliau tidak melerai, mendeterminasi, dan mendikte Kebenaran seperti yang Beliau maui. Beliau beringin kita berjibaku, dengan segala keterbatasan kemampuan kita, menafsir dan menerka Kebenaran yang ingin Beliau sampaikan.

Tentu akan lebih mudah jika segalanya definitif, eksplisit, dan jelas. Jika al-Qur’an memuat seluruh kaidah pelaksanaan hal-hal praktis di sepanjang zaman. Tetapi kita tahu itu tidak mungkin. Tuhan memang bersengaja membuat (setidaknya) sebagian dari kalam dan ayat-Nya, bersifat alegoris dan implisit. Kita harus menafsir makna di baliknya, mencari alasan dan tujuan, yang dalam prosesnya tidak selalu berujung pada pemahaman yang sama.

Tetapi memang mungkin keinginan untuk Allah ikut campur tangan juga problematik semenjak dalam keyakinan Islam, tidak akan ada lagi Nabi sepeninggal Muhammad. Siapa yang berhak dan layak mendapat ‘bisikan’-Nya? Akan jadi persoalan yang tak selesai-selesai juga. Menambah daftar perselisihan dan perdebatan kita. Sehingga mungkin, satu-satunya cara adalah ya, belajar lagi untuk menjadi lebih dewasa, untuk tidak reaktif tetapi analitis, untuk tidak provokatif tetapi respektif.

Dalam konteks ini kredo sufisme menjadi relevan. Kemarin saya merasa cerdas sehingga saya ingin mengubah dunia, hari ini saya bertambah bijak sehingga saya hanya ingin mengubah diri saya sendiri. Milik Beliau-lah segala perdebatan yang ada. Kepada Beliau-lah segala tanya dan jawaban (yang belum terpahami) dikembalikan.

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher dari Akar Rumput Strategic Consulting 

 

Sumber foto: https://lh3.googleusercontent.com/2u-Tc-A9QknU-CsO6G1mWlEVcTK3NseZFFKmdW9WakIfBAGcnfNd1jNK7ZxDsiISKdkD=h900

Post a Comments
blog comments powered by Disqus