Wittgeinstein, Nabi Muhammad, dan Komunikasi Kita


Wittgeinstein, Nabi Muhammad, dan Komunikasi Kita

Sebelum akhirnya pindah haluan menjadi filsuf dengan spesialisasi linguistik, Ludwig Wittgeinstein tadinya ‘hanyalah’ seorang mahasiswa engineering di Cambridge. Ketika ayahnya meninggal, dan ia mendapatkan warisan berlimpah, Wittgeinstein secara dramatis menghibahkan semuanya kepada saudaranya (yang padahal sudah kaya), dan memilih menyepi di Skjolden, pedalaman Norwegia.

 

Di sanalah Wittgeinstein menulis buku ‘tipis’ yang ‘cukup memusingkan’ sekaligus ‘menawarkan sudut pandang baru’ tentang komunikasi manusia. Judulnya: Tractacus Logico-Philosophicus. Idenya: language as picture. Asumsi dasarnya: words enable us to make picture of facts. Pertanyaan yang ia ajukan ‘sederhana’ walau jawabannya terbukti ‘kompleks’: bagaimana manusia mengkomunikasikan ide-ide mereka? Sebagai contoh: kata ‘es krim’. Ketika saya menyebut kata ‘es krim’, pikiran Anda secara otomatis ‘melihat gambar es krim’—terlepas dari es krim merk apa yang benak Anda lihat. Dengan bantuan gambar yang benak Anda ‘lihat’ itulah, menurut Wittgeinstein, Anda memahami apa yang saya sampaikan.

 

Dengan demikian, bagi filsuf Austria ini, proses komunikasi adalah proses pertukaran pictures of facts. Persoalannya adalah, kadang, untuk satu kata yang sama, pembicara dan yang diajak berbicara punya representasi gambar yang berbeda. Akibatnya, terjadi kesalahpahaman. Apalagi, manusia punya kecenderungan untuk, dalam satu dan lain kesempatan, menggunakan analogi, simbol, yang tidak selalu ‘dimengerti’ sesuai dengan pengertian yang dimaksudkan. Pun manusia punya kecenderungan untuk berada pada posisi di mana kata yang diucapkan berbeda dengan maksud yang ingin diungkapkan. Misalkan kalimat ‘saya tidak apa-apa’ yang secara teoritis sebangun dengan gambar ‘baik-baik saja’, kadang berarti ‘saya sedang marah sekali’.

 

Dengan pengertian demikian, Wittgeinstein tiba pada, setidaknya, dua pemahaman. Pertama: the limit of my language is the limit of my world. Pengetahuan kita dibangun oleh kerja berpikir pikiran (mind) kita. Dan dalam proses berpikir, beretorika, dan menganalisa, pikiran membutuhkan bahasa untuk mendefinisikan apa-apa yang ia pikirkan, retorikakan, analisakan. Tanpa bahasa, ide-ide sederhana dari impuls yang datang kepada pikiran tidak bisa diolah menjadi ide-ide yang lebih kompleks.

 

Kedua, Wittgeinstein tiba pada satu pemahaman lain—pemahaman yang akan membawa kita pada Nabi Muhammad. Yaitu: wovon man nicht sprechen kann, daruber muss man schweigenwhereof one cannot speak, thereof one must be silent. Kalau ndak tahu mau ngomong apa, wis diam saja. Kalau ndak punya pengetahuan soal apa yang mau diomongkan, ya wis ndak usah ngomong. Dalam sabda ala Nabi Muhammad, pemahaman yang ditemukan Wittgeinstein selepas pertapaannya itu berbunyi: falyaqul khoiron awu liyasmut: maka katakanlah yang baik, atau diam. Hanya, jika Wittgeinstein sampai pada kesimpulan tersebut ‘berkat’ temuannya akan konsep bahasa sebagai gambar, Nabi Muhammad mendasarkan sabdanya pada etika komunikasi yang beliau tanamkan.

 

Bagi beliau SAW, kemuliaan Islam harus dikomunikasikan dengan kata-kata yang baik, kalimat yang hasan, pun dengan cara-cara yang terpuji. Itu sebabnya ketika seseorang menyumpah-serapahi beliau dan Aisyah membalas serapah itu dengan makian tak kalah kasar, yang Nabi nasehati adalah Aisyah. Ketika suatu waktu Nabi ditanya oleh Abu Musa al-Asy’ari tentang kriteria Muslim terbaik, Nabi menjawab, “Muslim yang mampu menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Petuah itulah yang kemudian masuk ke benak saya ketika belakangan kita seperti disibukkan dengan kegembiraan merayakan dan menertawakan orang lain. Senang sekali kita mendapati orang lain (terlihat) bodoh, terpeleset atas ketidaklengkapan pengetahuan mereka. Kita seperti lupa pada ketidaklengkapan pengetahuan kita, jarak-membentang yang memisahkan kita dari Kebenaran, Pengetahuan, dan Kebaikan. Seolah kita ini akar dari Pohon Pengetahuan dan bukan potongan daun kering yang tercecar angin dan tidak mengerti keseluruhan gambar-besar. Seolah Kitalah Sang Maha Kata, Maha Benar, Maha Pengetahuan.

 

Bahkan dalam apa yang disebut ‘berdakwah’, menyindir kesalahan orang lain tampak sebagai pendekatan yang menggiurkan dan menyenangkan. Juga mempermalukan orang lain di depan umum, di hadapan mustami’, para murid. Menjatuhkan harkat-martabat manusia serendah-rendahnya sembari merasa diri, sekali lagi, lebih dan/atau paling benar. Seperti lupa kalau dakwah adalah mengajak dan kritik yang konstruktif tidak dilandasi keinginan merendahkan dan mempermalukan.

 

Kalau tidak mampu mendebat keilmuan, kita cela dan caci kondisi fisik, latar belakang, dan lain-lainnya. Kita seperti menemukan kedamaian batin saat mendapati orang lain buruk sehingga bergegas-gegaslah kita dalam mempertontonkan keburukan mereka. Dari sana saya bertanya kepada diri saya sendiri: apa jangan-jangan itu bentuk ketidakberanian kita mengakui dan menghadapi keburukan-keburukan kita? Cara kita melarikan diri dari ‘kesadaran akan keburukan itu’ dan mencari cara-cara tersisa untuk merasa baik-baik saja? Merasa kebenaran dan kebaikan adalah kita?

 

Thus, tapi di atas semua itu, kredo falyaqul khairan au liyasmut juga sebetulnya mengisyaratkan pentingnya sikap pengendalian diri. Apalagi di era kebebasan informasi dan kemudahan akses sosial media. Tanpa pengendalian diri yang cukup, kita dapat menjadi reaktif, bahkan mungkin provokatif. Kita gampang disulut isu yang tidak selalu berdasar pada fakta dan informasi yang kredibel. Dengan literasi media yang rendah, kita malas bertabayyun, kita baca berita dari judulnya saja.

 

Kita diarahkan oleh algoritma pencarian Google untuk ‘terkunci’ di hal-hal yang kita sukai saja. Mengisolasi kita pada homogenitas sudut pandang dan pengetahuan. Akibatnya, kita bakal dengan mudah menciderai semangat dan filosofi mendasar dari Islam itu sendiri, yaitu kedamaian, perdamaian, keselamatan, dan kemaslahatan. Maka tetap relevan untuk sekali lagi melihat kepada diri dan berkata: maka katakanlah yang baik, atau diam.  

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Source gambar: http://www.paolobottarelli.com/files/gimgs/63_wittgenstein

 

 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus