Sosok Lafran Pane: Inovator 100 Tahun Melampaui Zamannya


Sosok Lafran Pane: Inovator 100 Tahun Melampaui Zamannya

Sudah sepantasnya Gelar Pahlawan Nasional disematkan kepada Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Prof. Lafran Pane. Organisasi yang didirikannya pada 5 Februari 1947, 70 tahun silam tersebut telah melahirkan banyak tokoh Bangsa, cendekiawan, politisi ulung, pengusaha, dan profesi lain yang diantaranya pasti ada alumni HMI tampil sebagai pemimpin.

Lafran Pane memang tidak berperang di medan perang melawan penjajah kolonial. Namun dengan gagasannya sebagai seorang cendekia Muslim, Lafran Pane dikatakan alm. Nurcholis Majid—Cak Nur-- adalah “Inovator yang 100 Tahun Melampaui Zamannya”. Dan gagasan Pembaharuan Islam yang disampaikan Lafran kepada para Kader HMI, telah menjadi pelecut di awal berdirinya (tahun 1947), bahwasannya Keislaman dan Keindonesiaan adalah nafas perjuangan HMI. Dan semangat Patriotisme itulah yang membawa HMI untuk turut berperang fisik melawan Agresi Militer Belanda I dan ke-II.

HMI di Fase Perjuangan saat itu, harus meninggalkan bangku kuliah untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan terlibat dalam perjuangan fisik menghadapi agresi militer Belanda. Mereka kader HMI mengganti pena dengan memanggul senjata karena merasa ikut bertanggung jawab dalam mempertahankan kedaulatan NKRI yang sedang ‘digoyang’ kembali oleh Belanda yang belum ikhlas Indonesia Merdeka tahun 1945.

Melihat perjuangan kader HMI yang bersama tentara Indonesia, membuat Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) Jenderal Sudirman memberi sambutan atas nama pemerintah RI dalam Dies Natalis pertama HMI di Bangsal Kepatihan tanggal 6 Februari 1948, dan menyebut HMI sebagai Himpunan Mahasiswa Islam selain itu Jenderal Soedirman juga mengartikan HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia.

Kembali kepada profil Lafran Pane. Lahir di kampung Pangurabaan Kecamatan Sipiriok, yang terletak di kaki Gunung SIBUALBUALI, 38 kilometer kearah Utara dari Padangsidempuan, Ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, pada tanggal 12 April 1923. Sebenarnya Lafran Pane lahir di Padangsidempuan 5 Februari 1922. Untuk menghindari berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan berdirinya HMI Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi 12 April 1923.

Ketika sekolah di Taman Dewasa Raya Jakarta, Lafran Pane bertemu dengan Dipa Nusantara Aidit, dan di zaman Belanda bersama – sama memasuki Barisan Pemuda GERINDO, yang pada akhirnya antara Lafran dan Aidit memiliki keyakinan berlawanan kontras, dan Aidit pernah memimpin aksi untuk membubarkan HMI yang notabane adalah organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane.

Pada 25 Januari 1991, beliau meninggal dunia. Yudi Latif dalam bukunya Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20, hal 502 menyebutkan: Lafran Pane sebagai generasi ketiga inteligensia muslim Indonesia setelah generasi pertama (Tjokroaminoto, Agus Salim,dll), generasi kedua (M. Natsir, M. Roem dan Kasman Singodimedjo pada 1950-an), generasi keempat (Nurcholish Majid, Imadudin Abdurrahim dan Djohan Efendi pada 1970-an).

Hariqo Wibawa Satria, Penulis buku 'Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya', mengatakan, Lafran Pane berasal dari KELUARGA JURNALIS, SASTRAWAN DAN PEJUANG KEMERDEKAAN, Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang jurnalis, sastrawan, kepala sekolah di HIS, pendiri Muhammadiyah di Sipirok, sangat komplit.

Sutan Pangurabaan adalah pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan (terbit 1927), berbahasa Angkola, yang terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia, usahanya di bidang penerbitan dan percetakan. Sahat P. Siburian menyebut Sutan Pangurabaan sebagai juragan media cetak pada masa Kolonial. Dua kakak kandung Lafran Pane adalah Sanusi Pane (L: 1905), Armijn Pane (L: 1908), keduanya adalah sastrawan, budayawan yang sangat-sangat produktif (jika anda penggemar sastra, cek saja di internet tentang profil Sanusi Pane dan Armijn Pane, luar biasa). Lafran justru kurang produktif menulis, ia tipikal konsolidator, bidang studi  Lafran juga terbilang serius, yaitu Tata Negara. 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus