UAS, Dai Jutaan Follower


UAS, Dai Jutaan Follower

Jika dulu kita mengenal KH Zainuddin MZ sebagai dai sejuta umat, rasanya pantas kiranya kita menyebut Ustadz Abdul Somad (UAS) sebagai dai sejuta follower. Dua sosok ini menyimpan kharisma dan fenomena yang mampu membius publik. Menarik mencermati keduanya dalam konteks konvergensi media yang mengangkat nama keduanya dalam panggung sosial kemasyarakatan kita.

Kedua sosok ini sama-sama fenomenal. Namun bedanya, Zainuddin MZ besar diawali dengan pengajian-pengajian dari satu tempat ke tempat, dari mulut ke mulut, dari radio ke radio, dan sampai pada televisi. Sementara UAS besar dari dunia sosial media. Namanya dikenal melalui pengajian-pengajian yang diunggah ke sosial media, terutama facebook. Ceramah-ceramahnya mengingatkan kita pada gaya Zainuddin MZ, sang dai sejuta umat.

Mengapa UAS bisa fenomenal? Pertama, UAS muncul ketika dunia digital dan sosial media begitu gencar mendominasi seluruh aspek kehidupan kita. Informasi, hiburan, dan bisnis sudah berada di genggaman masing-masing individu melalui gawainya. Ceramah-ceramah UAS yang dianggap mampu menjembatani keresahan dan suara umat cepat menjadi viral.

Jika kita ikuti dakwa digitalnya, setidaknya pada dua kanal utama ceramahnya di Youtube, yakni Tafaqquh Online dan Fodamara, video UAS sudah ditonton total akumulasi 16,255 juta view dari total 1.410 video yang mencakup dirinya. Artinya, rata-rata satu video ditonton hampir 12.000 kali. Di fanspage facebook maupun instagram, dua akun personal media sosial yang aktif digunakan UAS, total pengikutnya lebih dari 300.000. Karenanya, namanya demikian berseliweran di jagat daring tanah air kurun beberapa bulan terakhir.
Apa rahasia yang membuat UAS begitu viral? "Tidak ada hal baru (dalam ceramah saya), hanya melanjutkan perintah Allah Swt dan Rasul SAW. Bahwa kita ummat terbaik, yang diperintahkan untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sekalipun kita semua bermunajat, berdoa rame-rame, namun jika tak amar ma'ruf nahi munkar, maka doa takkan dikabulkan," ujar UAS dalam satu kesempatan.
 
Kedua, UAS adalah sosok yang selama ini memiliki kelebihan sekaligus keunikan yang saat ini menjadi kebutuhan umat. Pakar Sejarah Islam sekaligus dosen UIN Sunan Gunung DR. Moeflich Hasbullahalam menyebutkan UAS memiliki banyak kelebihan yang merupakan gabungan dari beberapa sosok ulama-mubaligh masyhur di Indonesia. Lebih dari KH. Zainuddin MZ, Abdul Somad menguasai sumber-sumber klasik Islam atau kitab kuning sebagai sumber keilmuan dakwahnya. Bila Zainuddin MZ hafal membacakan teks Arab dakwahnya, Abdul Somad dengan nama kitabnya, nama pengarangnya, teks kalimatnya dan konteks kitab yang dikutipnya itu. Saat penyebutan itu, UAS hampir tidak pernah ada jeda berpikir dulu, daya ingatnya luar biasa, informasi sumber kitab langsung mengalir dari ingatannya. Kalangan ulama, kyai, habaib, ustadz dan mubaligh angkat topi atas penguasaan sumber-sumber kitab klasiknya, semuanya hormat. 

Ketiga, UAS ini sosok nahdliyin yang unik. Dalam beberapa pemikiran dan sikap, UAS terkadang agak berbeda dengan arus utama NU, meskipun secara umum tidak bisa dipungkiri UAS adalah seorang nahdliyin.  Jika dikategorikan dengan sosok ulama NU lainnya, rasanya UAS ini, seperti yang diperkirakan DR. Moeflich Hasbullahalam, UAS boleh jadi sejalur dengan KH. Hasyim Muzadi yang ketegasannya sama. Suara keduanya mewakili umat Islam bukan hanya mewakili NU, tapi di NU tetap diterima. Hasyim di jajaran ulama senior, Abdul Somad yunior.

Keunikan lainnya, kultur UAS ternyata tidak tunggal. Dalam diri Abdul Somad ada kultur NU, ada kemajuan Muhammadiyah, ada nahyi munkar FPI, ada aspirasi para habib. Ada penerimaan pada khilafah bahkan ada nuansa salafi-wahabi. Ibarat UAS adalah paket lengkap. Beberapa pengajian yang digelar, tidak jarang jamaahnya juga aneka ragama, tidak hanya dari warga nahdliyin. Tak jarang pula sejumlah jamaah perempuan memakai penutup cadar juga menghadiri pengajian UAS.

Namun, UAS bukan berarti bersih dari kontroversi. Sejumlah rencana pengajian UAS sempat dibatalkan di beberapa lokasi, seperti di Bali dan Hong Kong. Kedua kasus ini pun viral di sosial media dan menjadi ketegangan sendiri diantara anak bangsa. Namun, lepas dari itu semua hadirnya UAS harus diakui sebagai jawaban atas kerinduan publik pasca tiadanya sang dai sejuta umat, KH Zainuddin MZ. 

Jika dulu kita mungkin sering mendengarkan ceramah-ceramahnya melalui radio beserta joke-joke segarnya saat ceramah, bahkan sampai kini bisa kita ikuti melalui kanal youtube. Kini kerinduan publik terobati dengan hadirnya UAS. Dai jutaan follower di sosia media yang kini menjelma sosok yang fenomenal yang mungkin bagi sebagaian besar umat bisa disejajarkan sebagai “pengganti” Zainuddin MZ.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus