Joshua Dipolisikan dan Rendahnya Girrah Otokritik


Joshua Dipolisikan dan Rendahnya Girrah Otokritik

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh kabar dipolisikannya Joshua Suherman oleh FUIB (Forum Umat Islam Bersatu) karena dianggap menistakan agama. Apa yang membuat Joshua dianggap menistakan agama? Karena dalam materi stand up-nya di Majelis Lucu Indonesia, dia me-roasting Cherly Juno yang, walaupun menjadi leader Cherrybelle, tetap kalah pamor dari Annisa Rahma. Salah satu faktornya, kata Joshua, adalah karena Annisa itu Muslim—mayoritas. Kebetulan, Annisa sekarang sudah hijrah dan berhijab. Lengkaplah sudah ‘syarat’ untuk guyonan Joshua dianggap melecehkan Islam, setidaknya oleh FUIB dan pendukungnya.

Ge Pamungkas juga sebetulnya sempat dianggap melecehkan Islam setelah materi stand up-nya ‘menertawai’ kenaifan kita dalam merespon bencana. Ge memilih meminta maaf. Joshua tidak—atau belum. Joshua meminta bantuan mediasi kepada GP Ansor, yang disebut belakangan menyanggupi. Pandji Pragiwaksono, salah satu comic ternama di Indonesia, menganggap baik Joshua maupun Ge tidak menghina agama—yang mereka kritisi adalah: prilaku manusianya. Karena yang dikritik adalah prilaku manusianya, maka kritik tersebut ‘wajar’ adanya karena Muslim tidak bisa sempurna, sesempurna apapun Islam. Benarkah klaim Pandji tersebut?

Bagi saya, yang Joshua kritisi dan ‘tertawai’ bukanlah Islam per se, tetapi kekurangmampuan kita, umat Islam, dalam (1) merekognisi hegemoni dan keistimewaan, yang kita dapatkan sebagai mayoritas di Indonesia. Yang (2) kadang membuat kita tidak  terlalu mampu mendengarkan, dan mengkhidmati, aspirasi dan hak kaum minoritas. Dan (3) membuat kita tidak fasih melakukan otokritik, membuat (4) kita dapat, baik sadar maupun tidak, membumikan ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam bahas Pierre Bourdieu, membuat kita, secara a-sadar melegitimasi dan merawat symbolic violence (kekerasan simbolis).

Symbolic violence sendiri diefinisikan sebagai kekerasan yang tidak-kasat-mata, yang dikondisikan oleh sistem dan simbol. Dia tidak selalu berupa kekerasan fisik tetapi dampaknya dapat lebih besar daripada itu. Dalam konteks Indonesia, Muslim hanya harus hidup sebagaimana mestinya dan membiarkan value dan sistem yang telah ada berjalan sebagaimana mestinya. Yang pada akhirnya akan mempertahankan keistimewaan yang kita dapatkan, sambil pada saat yang bersamaan, melupakan hak-hak kaum minoritas.

Ambil contoh, tradisi berdoa di sekolah. Kita tahu bahwa di sekolah umum, siswa yang belajar tidak semuanya beragama Islam. Tetapi tradisi berdoa, baik di kelas maupun saat upacara bendera, selalu hanya menggunakan cara berdoa Islam. Kita seperti menganggap yang non-Muslim tidak merasa keberatan dan tidak boleh keberatan. Tetapi bayangkan kalau di sekolah umum, ada doa ala Kristen, ala Budha, ala Hindu. Apakah kita akan menganggap itu boleh? Belum tentu. Jangan-jangan malah sebagian dari kita akan menganggap itu sebagai upaya pemurtadan di sekolah.

Belum lagi kalau kita melihat bahwa tidak semua sekolah menyediakan guru agama khusus untuk siswa beragama non-Islam. Biasanya, siswa non-Muslim hanya dipersilakan untuk keluar kelas saat jadwal pelajaran agama dan mempelajari sendiri agama mereka masing-masing. Ini sebetulnya, adalah bentuk pengabaian atas hak konstitusional warga negara. Tetapi kita melihatnya sebagai bukan masalah, sebagai sesuatu yang normal, karena jumlah mereka toh sedikit, dan sekolah hanya akan buang-buang uang kalau harus menyediakan guru khusus. Kita menormalisasi privilege.

Dalam konteks penistaan agama, berapa banyak ustadz yang secara terang-terangan mencemooh konsep Trinitas di Kristen tanpa mereka ngerti sama sekali tentang konsep tersebut? Saya ingat betul Habib Rizieq pernah mencemooh begini: kalau Yesus anaknya Tuhan, lalu siapa bidannya? Bayangkan kalau Muslim di Indonesia itu minoritas, dan Kristen mayoritas. Mungkin Habib Rizieq sudah dituduh menistakan agama. Tetapi untunglah Islam mayoritas, Habib Rizieq tetap aman, karenanya.

Hal itulah, sebetulnya, yang  dikritisi oleh Joshua. Tak kurang tak lebih. Tetapi rupanya, fenomena penguatan konservativisme dan radikalisme Islam tidak hanya menumpulkan kemampuan kita merekognisi hak kaum minoritas, ia juga melemahkan kemampuan kita mempertanyakan privilege yang kita take for granted selama ini. Membuat kita nyaman-aman sebagai mayoritas, menikmati setiap keistimewaan, tanpa sadar bahwa ia berpotensi memanifestasikan ketidakadilan sosial bagi seluruh  rakyat Indonesia.

Dengan kecenderungan penafsiran Islam yang rigid dan sempit, penguatan konservativisme sepertinya menawarkan penguatan sudut pandang satu-arah: single narrative. Akibatnya, realitas yang dilihat hanya ditafsirkan melalui perspektif Islam saja. Lebih spesifiknya, Islam versi mereka sendiri. Ada kecenderungan untuk menolak ‘mengakui’ bahwa setiap pihak punya klaim kebenarannya sendiri-sendiri. Akibatnya, muncul sikap judgmental, rasa benar sendiri, dan rendahnya sikap otokritik. Padahal, otokritik adalah salah satu sifat (utama) Nabi Muhammad. Bayangkan, walau sudah Allah jamin keterjagaannya, istigfar Nabi kian lama kian banyak.

Nabi malah pernah, dalam khutbah wada’, meminta siapapun yang pernah beliau zalimi baik sengaja maupun tidak, untuk membalaskan kezaliman tersebut kepada beliau. Dan kesemua itu berangkat dari kesediaan Nabi mengkritisi diri beliau sendiri. Dalam banyak hal, sikap otokritik ini sebetulnya menjadi ciri khas tasawuf. Kenapa? Karena proses mendalami, mendekonstruksi, dan mengenali diri sendiri, pada akhirnya akan membawa kita pada kesadaran akan kenaifan, kesombongan, kenihilan, dan kebodohan kita. Sebuah ikhtiar otokritik.

Akibatnya, orang tersebut tidak buru-buru menghakimi dan menjelek-jelekkan orang lain, karena ia tahu dirinya sendiri sama jeleknya—atau bahkan lebih buruk lagi. Ia belajar menertawai diri sendiri. Ia tahu Islam sebagai agama sudah sempurna, tetapi itu tidak menghentikannya untuk sadar bahwa (1) pemahamannya akan Islam masih jauh dari sempurna, (2) dirinya sendiripun tidak sempurna, sehingga (3) Islam yang ia dan Muslim lainnya manifestasikan bisa jadi belum memenuhi ideal kesempurnaan Islam itu sendiri.

Jika sudah demikian, ia akan sibuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut, sambil beranjak menjadi lebih arif. Ia tidak akan menjadi pribadi over sensitif yang melihat orang lain tertawa saja sudah geer merasa ditertawakan. Yang melihat orang lain bahagia sudah marah karena dia tak diajak-ajak. Yang melihat orang lain mengkritisi kenaifan, langsung tersinggung. Dia belajar menjadi adil, karena Tuhannya bilang: i’diluu huwa aqrabu littaqwaa—berbuat adillah engkau, karena adil tersebut mendekatkan kita pada takwa.

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Source gambar: http://www.jitunews.com/read/72757/dituding-lakukan-penistaan-agama-joshua-bakal-dipolisikan 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus