Pers Pemersatu Bangsa

Comments 79 Views Views


Pers Pemersatu Bangsa

SIPerubahan - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985. Tanggal 9 Februari sendiri mempunyai nilai historis bagi perkembangan pers di tanah air karena bertepatan dengan HUT PWI.

Perayaan HPN digelar setiap tahun secara bergantian di ibukota provinsi yang berbeda. Panitia HPN 2018 dari PWI Pusat, Muhamad Ihsan mengatakan, Presiden RI Joko Widodo akan menghadiri puncak HPN di Kota Padang pada 9 Februari 2018.

Sementara itu, Mensesneg Pratikno mengungkapkan, Presiden Jokowi memang berencana bertolak ke Padang pada 8 hingga 9 Februari. Kemudian melanjutkannya dengan menghadiri acara para wartawan itu sekaligus meninjau serta meresmikan beberapa proyek. Menurut Ihsan, kehadiran presiden di acara HPN harus dimanfaatkan oleh daerah setempat untuk pembangunan.

Pesan Jokowi

Presiden Joko Widodo menuturkan, pers menjadi bagian penting dalam pembangunan negara. Namun, media saat ini dihadapkan dengan sebuah tantangan besar bernama media sosial (medsos).

Lanjut Jokowi, medsos yang digandrungi banyak orang saat ini, mulai kalangan masyarakat, pejabat pemerintah daerah, hingga presiden. Tak hanya menjadi tantangan media, kata Jokowi, medsos juga membuat pusing pemerintah. Hal ini pun terjadi di banyak negara.

Di tempat serta kesempatan berbeda, mantan Ketua Dewan Pers Bagir Manan memberikan pesan moril kepada insan pers profesional (media mainstream) tetap menjalankan prinsip jurnalistik yang profesional serta bertanggung jawab, sehingga mampu menghadirkan pers yang demokratis kepada masyarakat.

Menurut Bagir, dalam menghadapi media-media yang sulit sekali dikategorikan sebagai pers profesional (nonmainstream) yang belum terverifikasi di Dewan Pers, media mainstream harus tetap menjaga agar prinsip jurnalistik ini tetap dikedepankan.

Pers Bangkitkan Kesadaran Nasional

HPN juga tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah terkait dengan peran penting wartawan (jurnalis) sebagai aktivis pers dan aktivis politik. Sebagai akivis pers, jurnalis bertugas dalam pemberitaan serta penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional serta sebagai aktivis politik yang menyulut perlawanan rakyat terhadap kemerdekaan RI.

Peran ganda tersebut tetap dilakukan wartawan hingga pasca proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Bahkan, media kemudian mempunyai peran penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Pada tahun 1946, aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia kemudian mendapatkan wadah dan wahana yang berlingkup nasional pada 9 Februari 1946 dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Lahirnya PWI di tengah situasi perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan, melambangkan kebersamaan dan kesatuan wartawan Indonesia dalam tekad dan semangat patriotiknya dalam membela kedaulatan, kehormatan, serta integritas bangsa dan negara.

Kehadiran PWI juga diharapkan mampu menjadi ujung tombak perjuangan nasional menentang kembalinya kolonialisme dan dalam menggagalkan negara-negara boneka yang hendak meruntuhkan NKRI.

Sejarah lahirnya surat kabar dan pers nasional tersebut sangat terkait dan tak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya idealisme perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan. Hadir dari kesadaran itu, pada 6 Juni 1946 di Yogyakarta, banyak tokoh surat kabar dan tokoh pers nasional yang mengikrarkan berdirinya Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS).

SPS menyerukan agar barisan pers nasional perlu segera ditata dan dikelola baik dalam segi ide serta komersialnya. Hal itu mengingat bahwa pada saat itu pers penjajah dan media asing masih hidup dan tetap berusaha mempertahankan eksitensinya.

Kesejahteraan Wartawan

Selanjutnya, ada hal yang perlu menjadi perhatian, baik oleh pemerintah, maupun pelaku pers itu sendiri. Yang mana dalam acara peringatan kemerdekaan ke-72 RI, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan bahwa gaji wartawan kecil.

Prabowo menilai masih ada kalangan masyarakat yang masih belum sejahtera. Tahun lalu dan hampir setiap tahun, semua buruh termasuk juga jurnalis, menuntut upah layak atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

Pelaksanaan HPN 2018 yang mengusung tema  “Pers Sebagai Alat Pemersatu Bangsa” di Kota Padang sepatutnya juga dihelat seminar, lokakarya atau apapun namanya yang membahas persoalan upah dan gaji wartawan. Lantaran, bagaimana pun juga kesejahteraan jurnalis terkait dengan karya jurnalistiknya yang idenpendent. Selamat Hari Pers Nasional 2018! (Dbs). 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus