Indonesia Miniatur Global Tercermin dalam Pancasila

Comments 152 Views Views


Indonesia Miniatur Global Tercermin dalam Pancasila

SIPerubahan - Kegiatan hari kedua Sekolah Pemimpin Muda Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) angkatan 7, Yudi Latief, Ph.D didaulat menjadi pembicara dengan topik "Kaum Muda dan Strategi Kebudayaan Dalam Memperkuat Etos Kebangsaan Menuju Masyarakat Pancasila”. 

Pesan Yudi Latief kepada peserta KBFP 7 yaitu menjalankan Pancasila bukanlah sekadar menunaikan kepentingan negara. Jika anak muda menjalankan, memahami dan melaksanakan Pancasila, maka mereka sedang menumbuhkembangkan prestasinya.Hasil dari prestasinya itulah yang dinikmati oleh lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Lebih jauh, Yudi memaparkan, Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dijaga oleh banyak warna dan diperjuangkan oleh banyak warna pula. Ketimbang antarwarna menegasikan satu sama lain, alangkah lebih baik bila semua warna ini saling berpadu menghadirkan pemandangan yang luar biasa. Seperti itulah makna dari slogan Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman harus menemukan titik temunya, sehingga bisa berinteraksi di ruang publik.

“Di dalam cara kita menyusun kerangka pengetahuan apa yang disebut dengan epistimologi. Maksudnya apa? Karena Indonesia ini sebagai miniatur global, di mana segala keragaman ada, barangkali Indonesia adalah negara yang besar, kata Bung Karno di mana Taman Sari Dunia segala keragaman itu hadir dan itu dicerminkan di dalam lima sila Pancasila. Jadi ada lima sila Pancasila itu merangkum seluruh kemungkinan diversity-nya global,” jelas Yudi Latief, di Diskusi Kopi dan Ruang Berbagi, Jalan Halimun Raya no 11, Jakarta Pusat, baru-baru ini. 

Untuk diketahui, para peserta KBFP angkatan 7 yang berjumlah 50 orang ini sangat beragam. Sebut saja ada dosen Universitas Malikussaleh asal Aceh, Yusri Kasim (31); Wali Kota Tanjung Balai Sumatera Utara, M Syahrizal (29); politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Yolanda Ryan Armindya (26); dan staf humas Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Edrida Pulungan (35).  

Kemudian juga ada Ketua KONI Kota Bogor, M Beninnu Argoebie (35); pengusaha muda sekaligus peneliti yang fokus terhadap isu agama dan Timur Tengah, Nur Fadlan (31); Anggota DPRD Jawa Tengah 2014-2019, Abdul Hamid (34); Sekretaris Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Denpasar, Ni Kadek Novi Febriani (25); aktivis lingkungan dan HAM asal Maluku, Izack Knyairlay (26); pegiat isu hukum dan advokat Hak Asasi Manusia di Papua, Welis Doga (32), dan masih banyak lagi. 

Kagum KBFP

Yudi Latief pun begitu kagum dengan kebhinekaan para peserta KBFP 7, yang menurut ia, begitu beragam serta pluralisme. Di tempat yang sama, Yudi memberikan gambaran tentang makna dari ke 5 sila Pancasila itu kepada peserta KBFP 7. 

Misalnya, pada sila pertama yang menyiratkan bangsa Indonesia sebagai bangsa dengan multiagama. Sesuai pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama. 

Selanjutnya dalam sila kedua yang menyiratkan kemajemukan masyarakat berdasarkan ras manusia. Sedangkan, di sila ketiga menggambarkan bangsa ini sebagai bangsa yang beragam, tapi pada saat yang sama menyadari akan adanya tautan-tautan persatuan. 

Sementara itu, penjelasan terkait sila keempat, yakni mengenai keberagaman partai dan aliran partai politik. Dan, sila kelima yang menggambarkan kemajemukan dari segi lapisan kelas sosial. Selanjutnya, menurut Yudi Latief, dalam hal membumikan Pancasila di dalam kehidupan anak muda, pertama-tama penting untuk memahami lima isu strategis. Diantaranya Pemahaman Pancasila, Inklusi Sosial, Keadilan Sosial, Pelembagaan Pancasila, dan Keteladanan Pancasila.

“Sila pertama  adalah keragaman agama dan keyakinan. Sila kedua mendeklarasikan kita ini beragam dari ras manusia. Indonesia ini ras papua milanesia yang paling tua, jadi kalau ada yang bilang pribumi paling pribumi Indonesia itu sebenarnya adalah orang Papua Milanesia,” tuturnya. 

“Banyak keturanan-keturunan Eropa di kita mulai di pelabuhan-pelabuhan transit serta tempat perkebunan. Kita juga boleh dibilang negara dengan mozaik warna kulit yang paling lengkap. Mulai yang paling hitam di timur, agak light di Maluku, sawo mateng kita punya, kulit kuning kita punya seperti Nias, bagian Dayak kulit  merah, Mentawai kulit putih, juga ada jadi lengkap,” urainya menutup pembicaraan.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus