Cerita Pemred Kompas Soal Kucing dan Tikus Istana

Comments 195 Views Views


Cerita Pemred Kompas Soal Kucing dan Tikus Istana

SIPerubahan – Ada yang menarik dalam sesi diskusi serta sharing pengalaman hari ketiga pada Jumat (10/02/2018). Kali ini Sekolah Pemimpin Muda Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) angkatan 7 di Diskusi Kopi dan Ruang Berbagi, jalan raya Halimun no 11 Jakarta Pusat, mendapatkan pengalaman serta ilmu berharga dari Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho.

Wisnu mengajak para peserta untuk lebih mengetahui atau memahami dunia jurnalistik khususnya menulis. Menurut ia, ada tiga hal yang menjadikan seseorang itu abadi. Pertama, menikah dan punya anak. Kemudian, menanam pohon dan pohon itu tumbuh menjadi besar serta berbuah. Dan, terakhir adalah menulis buku.

“Usia kita kalau kita beruntung mungkin 80 tahun atau 100 tahun lagi. Teknologi mungkin membuat usia kita banyak. Tapi usia banyak belum tentu menguntungkan ya dari beberapa kasus. Dengan menulis, apa yang diingat oleh orang itu akan lebih panjang. Dan, menulis itu akan membuat seseorang menjadi lebih abadi. Sementara, kalau menikah itu mudah sekali dilakukan,” papar Wisnu.

Pria murah senyum ini kemudian berbagi pengalaman kepada para peserta KBFP 7 tentang pengalamannya meliput berita di Istana Negara Jakarta. Ada satu cerita menarik yang pernah dialaminya. Kejadian itu terjadi di tahun 2008. Masih dari penuturannya, waktu itu pemimpin negeri sedang disibukkan dengan upaya pemberantasan korupsi di Tanah Air.

Ketika Wisnu datang ke ruangan petinggi negara tersebut terpampang spanduk bertuliskan sayembara berburu kucing di Istana. Timbullah banyak pertanyaan dalam benaknya. Mengapa bukan tikus atau hama yang ingin diberantas namun justru kucing yang ingin ditangkap atau disingkirkan. Ternyata menangkap kucing, lanjut Wisnu, bukanlah perkara mudah. Yang mana pihak Istana pun harus menyewa lembaga khusus.

“Nangkap kucing juga bukan perkara mudah. Yang dipersoalkan Istana kan tikusnya banyak, maka Istana menyewa ISS untuk membantu melayani kebersihan kesehatan biasanya ada di bandara. Kalau pest control itu untuk menangani ruangan bebas dari tikus. Untuk menangkap tikus, negara menyewa lembaga khusus. Persis dengan realita kita kan. Kita punya lembaga Kepolisian, Kejaksaan, dan lain-lain. Tapi negara juga mempunyai lembaga ad hoc seperti KPK untuk menangani  atau menangkap tikus-tikus. Karena negara tidak mampu, kucingnya mandul,” tuturnya melempar senyum.

“Kejaksaan tidak mampu menangkapi koruptor-koruptor yang diibaratkan sebagai tikus. Bagaimana repotnya negara menangani korupsi. Dipasang banyak jebakan atau bunyi-bunyian agar tikusnya kabur. Betapa jeleknya kucing kita itu,” ujarnya melanjutkan.

Peserta KBFP pun begitu antusias mendengar pengalaman serta ilmu berharga dari Pemred Kompas.com ini.  Para peserta yang terdiri dari 50 pemuda terbaik yang tersebar dari berbagai daerah di Tanah Air bisa mengambil ilmu positif di sini. Mereka jadi tahu sisi lain dari profesi seorang jurnalis.

Diantaranya, Mekar Sinurat (30), Bendahara KNPI Toba Samosir; Heru Permana Putra (30), pengajar atau dosen di Universitas Andalas Padang; Rian Adelima Sibarani (26), aktivis bantuan hukum di LBH Pekanbaru; M Zulkarnain Purba (25), pegiat dunia jurnalistik; Jaka Hendra Baittiri (28), jurnalis; Joni Day (31), aktivis komunitas kreatif dan media sosial dari Palembang, dan lain-lain.

Diberitakan sebelumnya, sejak tahun 2011 KBFP telah mencetak lima angkatan kader bangsa yang telah berkiprah menjadi pemimpin komunitas sekaligus pemimpin di sejumlah institusi di daerah sampai tingkat nasional. Mereka telah menjadi opinion leader yang berpengaruh di daerah dan lingkungannya masing-masing.

Peserta KBFP berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdiri dari pelbagai suku, etnis dan agama, serta latar belakang profesi publik yang beragam: mulai dari akademisi, jurnalis, birokrat, aktivis, peneliti, penggiat komunitas kreatif, budayawan, santri dan pemimpin pesantren, pemimpin organisasi masyarakat, perwira muda di institusi Polri/TNI dan wirausaha muda/ entrepreneur.

Tak hanya itu, KBFP juga berada di garda depan mendorong keterlibatan anak muda, menjaga kohesi, membangun kehidupan publik yang bersih dan antikorupsi, menjaga indepedensi, kapasitas integritas, memelihara keberagaman, melawan radikalisme sekaligus membangun bangsa melalui inisiatif mandiri. (Foto: Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho/ Fotografer: Ihtifazhuddin)

Post a Comments
blog comments powered by Disqus