Pilgub Aceh 2017 dan Agenda Pembangunan Konkret


Pilgub Aceh 2017 dan Agenda Pembangunan Konkret

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak gelombang kedua pada 15 Februari 2017. Pilkada diikuti 101 daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Ada 7 Propinsi, 76 Kabupaten dan 18 Kota yang akan mengadakan pilkada 2017.Propinsi Aceh merupakan daerah yang akan paling banyak menggelar pilkada pada 2017, yakni satu pemilihan gubernur dan 20 pemilihan bupati dan wali kota.

Pilkada serentak pada 2017 pemberitaan nasional sangat diwarnai oleh pilgub DKI Jakarta, padahal masih ada 6 propinsi lainnya yang akan mengadakan Pilgub 2017. Pemilihan Gubernur yang menarik untuk kita lihat juga adalah Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Menarik karena persaingan sengit antara tokoh-tokoh yang bertarung memperebutkan kepemimpinan di Aceh.

Dalam persaingan Pilgub Aceh 2017 banyak tokoh yang itu akan tampil antara lain; Zaini Abdullah (Gubernur Aceh saat ini), Muzakir Manaf (Wakil Gubernur Aceh saat ini ), Irwandi Yusuf (Mantan Gubernur Aceh 2007-2012 ), ketiganya adalah mantan para pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sebelum MoU Helsinki ditandatangani. Kemudian, T A Nurlif (Mantan Anggota BPK & Ketua DPD I Partai Golkar Aceh), Ahmad Farhan (Mantan Wakil Ketua MPR RI 2009-2014, Politisi PAN), Abdullah Puteh (Mantan Gubernur Aceh 2000-2004) dan Tarmizi Karim (Irjen Kementerian Dalam Negeri RI). Para tokoh yang akan maju ini ada yang didukung oleh partai lokal dan partai nasional, namun ada pula yg akan maju melalui jalur independent.

Dari beberapa calon, berdasarkan laporan pemberitaan d media-media lokal, nampaknya persaingan untuk merebut kursi Aceh 1 hanya akan terjadi sengit antara tiga calon saja yaitu Zaini Abdullah, Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf. Komposisi dukungan parpol dalam Pilgub Aceh kira-kira seperti ini;  Zaini abdullah akan diusung oleh Partai Golkar, Irwandi Yusuf akan diusung PNA, Partai Demokrat dan PPP sedangkan Muzakir Manaf akan diusung Partai Aceh, Gerindra dan Partai Hanura.

Melihat persaingan sengit antara Zaini Abdullah, Irwandi Yusuf dan Muzakir Manaf ini, rakyat Aceh diminta untuk memilih secara objektif. Harapan kita jangan ada lagi kekerasan terjadi di Bumi Serambi Mekkah. Perdamaian adalah aspirasi otentik rakyat Aceh. Jangan hanya gara-gara mendapatkan kekuasaan, kekerasan dan intimidasi serta provokasi dilaksanakan menghalalkan segala cara.

Aspirasi kedua adalah jalannya pembangunan yang konkret mensejahterakan rakyat Aceh. Angka kemiskinan masih tinggi, kualitas sumber daya manusia juga masih rendah dan pelayanan publik tetap saja buruk. Aceh membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh peduli dengan pembangunan sosial ekonomi masyarakatnya.

Pertarungan politik yang melelahkan hanya membuat pemerintahan Aceh gagal fokus mengisi perjanjian damai Helsinki dengan sebuah program pembangunan kesejahteraan rakyat.

Sebagian rakyat banyak yang membicarakan kembali sosok Irwan Yusuf yang pernah menjadi gubernur satu periode sebelumnya. Pada zaman Irwandi Yusuf menurut mereka dinamika politik berlangsung demokratis namun terdapat pula program-program pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Keberhasilan paling kelihatan adalah bagaimana Irwandi Yusuf memperbaiki dan menumbuhkan ekonomi Aceh pasca tsunami. Sebelum adanya program BPJS, Irwandi sudah membuat program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Hanya dengan menunjukan KTP maka warga Aceh dapat memperoleh fasilitas kesehatan gratis. Irwandi Yusuf juga mendirikan KBA (Komisi Beasiswa Aceh) yang menggratiskan pendidikan S1,S2,S3. Dalam Program S1 itu juga ada program GURDACIL (Guru Daerah Terpencil) yg bertujuan memaksimalkan potensi putra-putri daerah bersangkutan.

Program Irwandi Yusuf lainnya ialah program ekonomi kerakyatan dengan menghimpun dana pengusaha besar dan meminjamkannya kepada UKM sebagai modal. Ada juga program bantuan sapi/kambing bagi masyarakat kecil dengan pembagian hasil ternak. Irwandi Yusuf juga memberikan insentif bagi aparat Desa, seperti Imam Desa, Ketua Karang Taruna dll.

Dengan sederet program yang telah dirasakan masyarakat pada masa itu maka Gubernur Aceh 2017-2022 harus bisa berbuat lebih baik lagi untuk kemakmuran rakyat Aceh. Jangan berpolitik saja namun lupa membangun bangsa

Post a Comments
blog comments powered by Disqus