Alasan Islam Memilih Pemimpin Seiman Dibilang Rasis dan Melawan Kebhinekaan


Alasan Islam Memilih Pemimpin Seiman Dibilang Rasis dan Melawan Kebhinekaan

Jika Pemilu Presiden kita ibaratkan sebagai Piala Dunia dalam olah raga sepak bola, maka tidak salah kita membandingkan bahwa Pilkada DKI adalah Piala Eropa dalam sepak bola. Seperti kita ketahui piala dunia adalah ajang 4 tahunan dimana seluruh dunia menikmati pertandingan sepak bola antar negara, sementara Piala Eropa juga memiliki euforia yang sama meskipun para peserta hanya dari negara-negara eropa. Begitu juga dengan Pemilu Presiden dimana seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke merasakan hingar bingar pesta demokrasi di Indonesia. Sedangkan Pilkada DKI juga memiliki suasana dan antusiasme yang hampir sama seperti Pemilihan Presiden.

Berbicara soal Pilkada DKI di tahun 2017 ini, banyak kalangan menilai Pilkada ini akan menentukan siapa yang akan menjadi calon presiden atau calon wakil presiden tahun 2019 mendatang. Sejak Jokowi menjadi Presiden RI dengan batu loncatan Gubernur DKI, banyak parpol berlomba-lomba untuk merebut “tahta” ibu kota dengan berbagai cara. Isu yang dimunculkan pun beragam, mulai dari isu agama, isu kebhinekaan, sampai isu dugaan kasus korupsi dari masing-masing pasangan calon.

Terkait isu agama, calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang paling banyak menerima serangan dari berbagai penjuru. Selain umat Islam yang tidak diperbolehkan untuk memilih pemimpin yang tidak seiman, Ahok pernah menyulut emosi umat muslim saat mengatakan Al Quran Surat Al Maidah ayat 51 sebagai alat kebohongan. Hal itu juga yang membuat umat Islam di seluruh dunia mengecam Ahok dan puncaknya 7 juta masyarakat turun ke jalan meminta Ahok diadili di pengadilan. Alhasil, Ahok pun harus duduk di kursi terdakwa.

Isu terhadap penolakan Ahok terus bergulir namun nampaknya para pendukung Ahok tidak tinggal diam, maka isu kebhinekaan dijadikan alat penangkal isu agama. Di tengah masyarakat Jakarta, isu ini terus berkembang hingga berhasil memecah warga menjadi dua kubu yaitu masyarakat yang berpegang pada ajaran Islam dan masyarakat yang percaya bahwa Pancasila dan kebhinekaan akan membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Pertempuran dua kubu ini pun tidak hanya di lapangan namun juga di berbagai platfoam media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya.

Kubu yang pro kebhinekaan nampaknya lebih unggul dibanding kubu yang berpegangan pada Islam. Hal ini terbukti dari stigma negatif kepada pendukung calon gubernur muslim maka akan mendapat cap rasis, fanatik, tidak pro kebhinekaan dan Pancasila. Sementara, para pemilih yang seiman dengan Ahok yaitu Kristen dan yang sesama etnis Cina dianggap pro demokrasi dan menjaga persatuan.

Lalu mengapa orang Kristen dan Cina yang memilih Ahok dan tidak memilih pemimpin muslim dianggap tidak rasis? Disinilah hebatnya tim komunikasi Ahok dimana mereka bisa mengendalikan opini publik melalui media dan media sosial serta berhasil membawa orang-orang muslim untuk berani melawan ajaran agamanya. Ditambah lagi para ulama yang dijadikan tersangka juga mungkin membuat masyarakat Jakarta berpikir ulang untuk memilih dari kalangan muslim.

Soal rasis atau tidak rasis mungkin ini hanya masalah pandangan saja, bagi kubu yang pro kandidiat muslim mereka tidak rasis karena dalam memilih pemimpin sudah diatur dalam kitab suci mereka yaitu Al Quran. Sementara, bagi pemilih yang seiman dengan Ahok mereka rasis dan secara tidak langsung menganggap Al Quran juga rasis dan tidak toleran.

Masalah toleransi dan kebhinekaan di Pilkada DKI ini juga menarik perhatian media luar negeri, salah satu media ternama di Belanda pernah memuat artikel yang berisi kebencian umat Islam terhadap warga yang memeluk agama Kristen. Dalam artikel itu juga disebut bahwa Pilkada DKI adalah sebuah tes sejauh mana warga Jakarta, khususnya umat Islam di indonesia toleransi terhadap kaum minoritas.

Mungkin media itu belum mengetahui slogan toleransi Islam di Indonesia yang berbunyi :

Jika ada perayaan Natal maka umat Islam harus menghormati yang natal

Jika ada perayaan Nyepi maka umat Islam harus menghormati yang Nyepi

Jika ada Perayaan Imlek maka umat Islam harus menghormati yang Imlek

Namun, jika memasuki bulan Ramadhan atau bulan puasa maka umat Islam yang harus menghormati yang tidak berpuasa.

Salah satu teman pernah berkata mengenai toleransi “Ya, umat Islam memang yang harus dituntut untuk toleransi, tidak rasis, menjaga persatuan, sementara yang lain tidak karena umat Islam yang mayoritas di Indonesia jadi harap bersabar ini ujian,”

Kembali lagi ke Pilkada DKI, nampaknya isu agama masih belum bisa mengalahkan Ahok karena terbukti mantan Bupati Belitong Timur ini menang dalam putaran pertama pemilihan gubernur DKI.

Meskipun demikian, siapapun calonnya, siapapun pemenangnya nanti nampaknya memiliki PR yang harus dibenahi secepatnya, yaitu menyatukan kembali warga Jakarta yang sudah terpecah belah karena Pilkada ini.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus