Meramal Putaran Kedua Pilgub Jakarta 2017


Meramal Putaran Kedua Pilgub Jakarta 2017

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta menjadi satu satunya pilkada yang digelar dua putaran dalam gelombang pilkada serentak 2017 ini. Dinamika politik di ibu kota rasanya akan semakin memanas karena diprediksi persaingan di babak kedua nanti semakin ketat.Pemilih pun akan semakin tegas mengelompokkan dirinya, di pihak petahana atau pihak penantang petahana.

Keputusan putaran dua diambil setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta melakukam rapat pleno terbuka rekapitulasi tingkat provinsi KPU DKI Jakarta. Hasilnya, pasangan petahana Ahok-Djarot memperoleh 2.364.577 suara. Mereka unggul atas pasangan nomor urut 2 Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan perolehan suara 2. 197.333. Sedangkan pasangan nomor urut 3 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dengan 937.955. Hasil berikut memastikan putaran kedua akan diikuti pasangan no 2 Ahok-Djarot melawan pasangan no 3 Anies-Sandi.

Melihat sengitnya persaingan putaran pertama pilgub Jakarta 2017, maka banyak yang meyakini putaran kedua akan lebih sengit lagi. Apalagi perbedaan suara antara pasangan no 2 dengan no 3 tidak terlampau jauh. Ditambah lagi kedua pasangan yang masuk putaran kedua ini sudah saling menyerang pada putaran pertama. Tulisan ini sekadar mencoba meramalkan langkah-langkah yang akan dilakukan kedua pasang cagub DKI untuk memenangkan pemilihan.

Hal yang pertama akan dilakukan oleh kedua pasangan calon ini adalah mendapatkan dukungan dari partai koalisi yang mendukung Agus-Sylvi. Gelagat tersebut sudah terlihat dari orang-orang tim sukses Ahok-Djarot yang mulai melakukan pendekatan ke partai-partai tersebut. Dukungan tambahan dari partai lain jelas akan memperbesar kemenangan. Apalagi bagi pasangan Ahok-Djarot, yang sangat mengharapkan dukungan partai berbasis Islam yang belum mereka miliki. Sampai-sampai Ketua Umum PDIP Megawati berbicara kalau bisa partai yang koalisi di pemerintahan juga berkoalisi pada Pilgub Jakarta 2017. Sementara kubu Anies-Sandi juga melakukan pendekatan ke partai-partai lainnya. Kesempatan pasangan ini untuk mendapatkan dukungan tambahan partai lain yang lebih besar dibanding kubu Ahok-Djarot. Hal tersebut dikarenakan partai-partai itu kurang suka terhadap Ahok dan basis konstituen mereka juga tidak suka Ahok. Jadinya meraka akan memilih Anies-Sandi karena takut dukungan pada Pileg 2019 menurun. Terlebih lagi ada kabar Prabowo akan menemui SBY menyangkut hal ini. Hasil pertemuan kedua tokoh ini tentu akan berdampak pada ke arah mana partai-partai itu menentukan dukungannya.

Pertarungan Progam

Putaran kedua akan menjadi perang program dan isu yang akan saling serang menyerang. Hal ini akan semakin menarik karena tinggal dua pasangan. Pasti diantara mereka akan saling mengkritisi program lawannya masing-masing. Hal yang terlihat adalah bagaimana kubu petahana menyerang program rumah tanpa DP yang dimiliki kubu Anies-Sandi. Perang program memang bagus dan itu yang diharapkan, tapi kayaknya perang isu yang akan lebih mewarnai. Isu-isu yang saling menjatuhkan akan semakin banyak terutama bagi kubu Anies-Sandi yang akan mendapatkan negatif campaign yang  lebih banyak. Perang isu yang dimainkan oleh kedua kubu harus diukur benar. Jangan sampai isu yang dimaksudkan untuk menjelekan lawan malah berdampak positif bagi lawan.

Langkah yang harusnya disadari dan dilakukan adalah memetakan basis dukungan masyarakat dan daerah. Dari hasil putaran pertama tentu setiap kubu akan menentukan basis pemilih dan daerah mana yang akan menjadi sasaran untuk mendapatkan dukungan yang lebih. Dari kubu Ahok-Djarot jelas Jakarta selatan dan timur akan menjadi daerah sasaran serta masyarakat menengah kebawah yang akan mereka bidik. Timses petahana tentu sudah menentukan pendekatan apa yang akan mereka lakukan pada daerah dan basis pemilih tersebut. Begitu pula bagi pasangan Anies-Sandi, Jakarta Barat dan Utara menjadi daerah sasaran serta masyarakat menengah atas yang akan dibidik.

Debat yang akan dilaksanakan satu kali di putaran kedua, nampaknya sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Soalnya pada putaran pertama banyak masyarakat memantapkan pilihannya setelah menonton debat. Pasangan petahana dan penantangnya mempunyai kelebihan dalam berdebat, sehingga sangat dinantikan penampilan mereka. Siapa yang bisa lebih unggul dalam debat akan memperbesar peluang untuk menang. Selain debat, perang survei juga akan mewarnai putaran kedua. Terutama bagi lembaga survei yang memiliki afiliasi ke para kandidat.

Putaran kedua antara Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi akan menyita perhatian. Tak pelak, hal ini akan berdampak pada pemberitaan, baik cetak maupun online. Khususnya sosial media pasti menjadi arena bagi kedua pendukung untuk berperang. Banyak yang bilang bahwa Pilgub Jakarta 2017 rasa Pilpres pada putaran kedua ini semakin kental. Hal tersebut karena pasangan yang tersisa di indentikkan dengan Jokowi versus Prabowo. Sama seperti pilpres 2014 masyarakat sudah terbagi dua kubu. Dengan kuatnya persaingan ini diharapkan putaran kedua bisa berjalan dengan damai.

Menyangkut siapa yang bakalan keluar sebagai pemenang putaran kedua Pilgub Jakarta 2017 masih sulit ditebak. Andai politik seperti matematika maka Anies-Sandi yang akan menang karena mendapatkan limpahan suara dari pemilih Agus-Sylvi. Bagi pasangan petahana, kemenangan adalah harga mutlak. Mereka akan berusaha keras untuk mencapainya. Kedua kubu masih mempunyai peluang yang sama untuk menang, tinggal bagaimana mereka melangkah menuju kemenangan.Mari kita tunggu!

Post a Comments
blog comments powered by Disqus