Benarkah Ahok Kalah Karena Agamanya?


Benarkah Ahok Kalah Karena Agamanya?

Belum genap satu bulan, pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta diselenggarakan. Kita tahu pada pertarungan merebut kursi DKI-1 itu ada satu calon yang beragama non-muslim menjadi kandidat Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2002. Ya, dia adalah Basuki Tjahaya Purnama atau yang akrab disapa Ahok. 

Pada kontestasi tersebut, Ahok harus menerima kekalahannya sebab penolakan pemimpin non-muslim menjadi resistensi bagi Ahok. Namun, rasanya tidak mutlak soal agama yang membuat Ahok kalah. Apakah benar Ahok tidak dipilih masyarakat Jakarta karena agamanya bukan Islam? Apakah benar, meskipun puas dengan kinerja Ahok di masa sebelumnya, masyarakat Jakarta tetap enggan memilih Ahok jadi pemimpin Jakarta lantaran Tuhan yang dia sembah bukan Allah SWT?. Mari sama-sama kita cari jawabannya.

Di dalam Al-Qur’an memang telah ditegaskan tentang larangan hukum menjadikan orang non-muslim sebagai pemimpin suatu daerah/pemerintahan. 
”Janganlah orang-orang Mukmin menjadikan orang-orang Kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah-lah tempat kembali.” (Q.S. Ali Imran : 28).

Namun, dalam penafsirannya disini, yang disebut sebagai orang non-muslim dan kafir adalah mereka yang memerangi Islam untuk golongannya sendiri. Jadi, jika golongan non-muslim tersebut hidup berdamai dengan orang-orang Islam, mampu memberi kesejahteraan dan keadilan, maka sudah semestinya umat Islam harus berbuat baik dan berlaku adil terhadapnya.

Hal ini sebagaimana QS. Al-Mumtahanah yang artinya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama, dan tidak pula mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Dengan demikian, maka sudah jelas bagaiamana pendekatan juga multitafsir dalam memahami persoalan ini. Namun, bagaimanapun realitas politik tidak bisa menafikkan realitas Indonesia yang plural. Indonesia adalah bangsa yang memiliki penduduk dengan aneka ragam agama, suku dan budaya, maka sudah semestinya nilai-nilai persatuan dikedepankan ketimbang menebar sentimen SARA.

Boleh jadi memang isu agama memperkuat kekalahan Ahok, namun penulis meyakini itu bukan faktor tunggal. Kekalahan Ahok terjadi karena kelalaiannya menjaga lisannya sendiri.“Mulut-mu, Harimau-mu.!” Itulah ungkapan yang tepat untuk dijadikan alasan kekalahan Ahok dalam kontestasi Pilkada Jakarta kemarin.  

Kekalahan Ahok terjadi karena ulahnya sendiri yang tidak bisa mengontrol ucapannya di depan masyarakat. Ahok yang dikenal sebagai pemilik ucapan paling kasar, Ahok yang dikenal sebagai pemimpin yang arogan, dan Ahok yang dikenal sebagai orang paling tidak manusiawi itu yang menjadikan masyarakat Jakarta akhirnya tidak sudi lagi memilihnya untuk memimpin Jakarta pada 5 tahun ke depan.

Jika masih ada yang "ngeyel" kalau Ahok kalah karena faktor agamanya bukan Islam, rasanya tidak mungkin juga di daerah lain justru non-muslim terpilih. Lihat saja di Solo, Jawa Tengah, Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo terpilih menjadi Walikota Solo pada 2015 kemarin. FX Hadi Rudyanto menang telak di Pemilu Walikota Solo meskipun dirinya katolik di tengah mayoritas warga muslim.

Ini menjadi bukti, sebenarnya orang non-muslim pun bisa menjadi pemimpin di Indonesia jika dia memiliki sikap yang santun, lembut, menyayangi rakyat, adil dan mampu mensejahterakan. Syarat ini tentu tidak hanya berlaku untuk mereka yang beragama non-muslim ketika ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah/pemerintahan. Syarat ini menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki siapapun untuk memimpin Indonesia yang lebih baik.

Jadi sekali lagi, kekalahan Ahok terjadi bukan karena apa agamanya atau siapa Tuhannya, melainkan karena sikapnya yang tidak bisa menjaga perkataannya.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus