Hormati Keputusan Hakim


Hormati Keputusan Hakim

Selasa, (9/5) seluruh perhatian tertuju ke Ibukota negara.  Kasus dugaan penistaan agama yang menyeret Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama  (Ahok) sebagai terdakwa berujung pada keputusan hakim yang menjatuhkan vonis dua tahun penjara terhadap Ahok.

Jika diingat lagi, kasus yang membelit mantan Bupati Belitung Timur itu sempat dihujani oleh aksi demo besar-besaran yang mengatasnamakan membela agama Islam. Bahkan, isu Suku Ras Agama dan Golongan (SARA) sempat menjadi isu paling fenomenal di kanca nasional.

Sebab peristiwa tersebut, banyak energi pemerintah mulai dari Presiden, Menteri, Aparat Kepolisian hingga TNI terkuras untuk meredam persoalan yang berdampak pada masyarakat seantero negeri ini.

Meskipun kita tidak mungkin melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kasus Ahok diproses di pengadilan, namun mulai hari ini semestinya kita sudah mulai merasa lega dengan keputusan hakim yang menjatuhkan vonis hukuman selama 2 tahun kepada Ahok.

Tapi sayangnya yang terjadi tidak demikian. Bagi mereka yang menuntut Ahok, vonis dua tahun masih sangat kurang jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan Ahok dalam menghina agama Islam. Vonis 2 tahun masih belum sebanding dengan luka yang harus diterima oleh masyakat terutama muslim yang tersakiti karena merasa agamanya telah dinodai sang Gubernur.

Sedangkan bagi mereka pendukung Ahok, yang menamakan diri sebagai Ahokers, jelas merasa tidak terima atas putusan Hakim yang tidak adil. Mereka meyakini, bahwa Gubernurnya tidak pernah melakukan kesalahan apalagi melakukan penistaan agama. Ahok adalah sosok tauladan yang tidak sepantasanya mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. 

Sebab perasaan tersebut, pasca vonis hukuman 2 tahun tersebut dibacakan oleh Hakim, para Ahokers bergegas mendatangi Lapas Cipinang untuk aksi dan menuntut untuk kebebasan Ahok. Bahkan sempat dikabarkan juga bahwa ratusan warga pendukung Ahok sedang mengumpulkan foto KTP sebagai jaminan atas penangguhan penahanan Ahok.

Kita tentu tahu, kasus penistaan agama yang terjadi di Indonesia bukan hanya baru sekali ini ada. Sebelum kasus Ahok, di Bali, seorang ibu rumah tangga juga dijatuhi hukuman 14 bulan karena menghina agama Hindu. Ibu rumah tangga itu menyebut canang atau tempat menaruh sesaji dalam upacara keagamaan umat Hindu dengan sangat kotor dan menjijikkan. Namun, kita juga bisa lihat bersama bahwa kasus ibu itu tidak seramai kasus Ahok, apalagi sampai mendapat dukungan “mati-matian” dari para pecinta Ahok.

Loyalitas para pendukung Ahok memang harus kita akui dan tidak bisa diragukan lagi. Meskipun Ahok tidak menang dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta melawan pasangan Anies-Sandi, namun mereka masih tetap mencintai Ahok dan rela mengawal sang idola dalam menjalani proses hukum atas tuduhan yang menimpanya.

Kendati demikian, ada baiknya juga para pendukung Ahok menghormati apa yang sudah menjadi keputusan hakim. Tidak hanya pendukungnya saja, masyarakat Indonesia secara luas juga sudah seharusnya patuh pada keputusan hakim yang memvonis Ahok dengan hukuman dua tahun. Kalau antara yang menuntut dan yang mendukung Ahok terus melakukan aksi demo, maka energi pemerintah juga akan terbuang sia-sia hanya untuk memperhatikan satu kasus ini saja. Padahal, sesungguhnya masih ada banyak hal yang harus kita fikirkan untuk memajukan bangsa ini.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus