Siapakah Muhammadiyah Hari Ini?


Siapakah Muhammadiyah  Hari Ini?

Sejak didirikan pada 18 November 1912, Muhammadiyah sudah memiliki 15 Ketua Umum sampai saat ini. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, telah terpilih  Dr. H. Haedar Nashir sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020.

Adapun 14 Ketua Umum sebelumnya ialah : KH. Ahmad Dahlan (1912-1923), KH Ibrahim (1923-1932), KH Hisyam (1934-1936), KH Mas Mansyur (1937-1942), Ki Bagoes Hadikoesoemo (1944-1953), Buya AR Sutan Mansur (1953-1959), KH Yunus Anis (1959-1962), KH Ahmad Badawi (1962-1968), KH Faqih Usman (1968-1968), KH AR Fachrudin (1968-1990), KH Ahmad Azhar Basyir (1990-1995), Prof Dr Amien Rais (1995-1998), Prof Dr KH Ahmad Syafii Maarif (1998-2005), dan Prof Dr KH Din Syamsuddin (2005-2015).

Dari semua pemimpin tersebut, secara subjektif ada tiga nama yang penulis jadikan sebagai sosok yang mampu memberikan “cahaya” bagi Mumammadiyah, (tentunya sejak KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi ini), mereka ialah Amien Rais, Buya Syafi’i Maarif dan Din Syamsudin.

Ya, siapa yang tidak kenal dengan tiga nama tersebut? Bahkan, Haedar Nashir selaku Ketua Umum saat ini juga memberikan penghargaan tertinggi untuknya.

“Kita ingin memberi penghargaan yang tinggi kepada tiga tokoh ini. Bapak Amien Rais dikenal sebagai tokoh reformasi, Buya Syafii Maarif sebagai bapak bangsa, Din Syamsuddin sebagai tokoh jihad konstitusi,” Kata Haedar pasca Ia resmi ditetapkan menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis  (6/8/2015).

Pada kepemimpinan Amin Rais, gerakan intelektual di Muhammadiyah sangat massif, salah satu buktinya ialah gelar profesor dan doktor semakin banyak bermunculan pada era ini. Selain itu, saat Muhammadiyah dipimpin oleh Amin Rais, Muhammadiyah juga semakin tajam mengkritisi rezim. Amien Rais mampu membawa Muhammadiyah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Presiden Soeharto.

Ciri kuat kepemimpinan akademisi yang diperlihatkan oleh Amien Rais ialah keberaniannya melempar kritik dengan argumentasi yang kuat. Namun, meskipun banyak prestasi Amin Rais yang dipersembahkan untuk Muhammadiyah, peristiwa yang disayangkan ialah Amien Rais tidak sampai menuntaskan satu periode kepemimpinannya di Muhammadiyah sebab. Ia memilih jalan untuk berpolitik dan terpilih menjadi Ketua MPR RI Periode 1999-2004. Dengan Demikian, posisi Amien Rais kemudian digantikan oleh Buya Syafi’i.

Buya Syafi’I memimpin Muhammadiyah tidak hanya meneruskan sisa-sisa kepengurusan Amien Rais saja, namun Ia juga terpilih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah pada periode 2000-2005.

Di era kepemimpinan Buya Syafi’I inilah Muhammadiyah bisa disebut sedang berada di masa paling sulit dan menegangkan. Pasca dilengserkannya Gus Dur oleh MPR, sedangkan saat itu MPR diketuai oleh tokoh Muhammadiyah, Amien Rais, maka terjadilah konflik akar rumput antara kader NU yang Gusdurian dan kader Muhammadiyah.

Akan tetapi konflik tersebut tidak berlangsung lama sebab Buya Syafi’I memiliki kedekatan dengan ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi. Buya Syafi'i memanfaatkan kedekatan tersebut untuk meredam emosi dari masing-masing anggota dan mengajak agar kembali hidup rukun dan damai. Beruntung, tawaran tersebut diterima.

Tidak lama dari itu, Megawati Soekarno Putri juga akhirnya dipilih untuk menggantikan Gus Dur sebagai Presiden RI. Sejak saat itu, Buya Syafi’I terus menyibukkan diri untuk memulihkan stabilitas sosial pasca konflik.

Tidak hanya itu, pada era Buya Syafi’i ini, gerakan intelektual di Muhammadiyah juga bisa dibilang sedang berada di titik puncak dengan ditandai lahirnya Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang dimentori Moeslim Abdurrahman. Beberapa kadernya pun kemudian bertebaran sekolah keluar negeri, sehingga Muhammadiyah kemudian “panen master dan doktor”.

Meski JIMM pada awalnya disebut merupakan gerakan liberal dan lain sebagainya, namun pada era itulah jumlah kader Muhammadiyah yang sekolah ke luar negeri makin meningkat. Baik ke Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Kanada, dan negara lainnya.

Lain Buya Syafi’i lain juga dengan Din Syamsudin. Din Syamsudin merupakan sosok ketua yang paling aktif dalam berbagai forum dunia. Din Syamsudin juga satu-satunya ketua umum yang memimpin Muhammdiyah selama dua periode pasca reformasi.

Jabatannya yang pernah menjadi ketua MUI juga semakin menambah kewibawaan Din Syamsudin saat memimpin Muhammadiyah. Melalui forum-forum perdamaian dunia, Din Syamsudin mampu menunjukan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi keislaman produk Indonesia yang senantiasa menjadi penyeimbang-penyempurna dalam menjaga kerukunan dan persatuan umat.

Dari ketiga sosok pemimpin tersebut, dengan ciri khas, karakter dan cara kepemimpinan yang berbeda-beda, eksistensi Muhammadiyah terus diperhitungkan baik di dunia nasional maupun internasional. Lantas, apakah di tengah kepemimpinan Haedar Nashir saat ini Muhammadiyah mampu memberikan “cahaya” baru lagi? Atau, akan ada nama baru yang muncul dan bisa menjanjikan bahwa Muhammadiyah adalah benar-benar organisasi sang pencerah? Kita tunggu saja jawabannya. Namun yang pasti, melalui tiga nama tersebut setidaknya posisi Muhammadiyah sebagai entitas keumatan dan kebangsaan tak akan lapuk oleh zaman.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus