Amien Rais “Keras” Di Rezim Jokowi, Ada Apa?


Amien Rais “Keras” Di Rezim Jokowi, Ada Apa?

Rezim pemerintahan Jokowi nampaknya tak pernah usai di rundung persoalan. Di awal-awal pemerintahan, goncangan begitu dahsyat ke rezim baru ini karena pemerintah tidak menguasai mayoritas parpol di parlemen. Komunikasi politik tingkat tinggi kemudian dilakukan, melalui banyak tawar-menawar politik, pada akhirnya Jokowi memperoleh dukungan mayoritas parlemen.

PAN, Golkar, dan PPP yang sebelumnya berada di luar pemerintah akhirnya merapat ke lingkaran kekuasaan dengan iming-iming kursi Menteri dan tentu saja proyek-proyek strategis nasional. Pemerintahan sudah kuat, parlemen sudah dikuasai, proyek-proyek strategis nasional sudah berjalan lancar, hubungan dengan partai oposisi seperti Gerindra dan PKS juga relatif baik, lalu kenapa masih banyak tekanan kepada pemerintah Jokowi?

Salah satu tokoh senior yang terus menerus menekan dan mengkritisi rezim ini adalah Amien Rais. Mantan Ketua MPR ini adalah salah satu produk reformasi yang sangat vokal mengecam pemerintah Jokowi.

Asal muasal “turun gunungnya” Amien Rais diawali dari kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Saat itu Amien sangat berang dan mulai sering muncul ke publik karena melihat Ahok terkesan sangat dilindungi pemerintah. Padahal kala itu, kondisi politik sudah adem ayem, ditandai dengan mesranya hubungan Ketua MPR/Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Istana. Ditambah lagi Ketua Majelis Penasehat PAN Sutrisno Bachir juga diberi posisi di Istana sebagai ketua tim pakar ekonomi.

Sesuai dengan karakternya yang keras, tak kenal takut, Amien tak memperdulikan jalinan kemesraan antara PAN dan Jokowi. Ia kembali turun ke jalan, dengan lantang kembali berorasi, memimpin aksi maha besar dan monumental 414 dan 212 di Jakarta. Saat itu publik menilai, jika Amien sudah sampai kembali turun ke jalan, berarti ada yang salah di republik ini.

Amien dengan keras mengecam dan mengkritik pemerintah secara keseluruhan ataupun kerap langsung menunjuk hidung Jokowi selaku kepala negara dan kepala pemerintahan. Pertanyaan yang muncul di publik, kenapa Amien begitu galak dan “tidak jinak” di rezim ini? apa semata-mata karena kasus Ahok?

Pertanyaan berikutnya muncul, kini Ahok sudah dipenjara, kenapa Amien dan Jokowi dan kunjung berdamai?

Jawabannya adalah karena komunikasi yang terjalin antara Presiden dan Amien Rais sangatlah buruk. Berdasarkan informasi yang berhembus, ada sejumput elit yang tidak menghendaki adanya rekonsiliasi antara Amien dan Jokowi. Keadaan ini nyatanya makin diperparah dengan buruknya taktik komunikasi Jokowi terhadap kepentingan-kepentingan di luar pemerintah.

Mari kita tinjau kembali, rezim SBY kala itu. Saat itu, Amien Rais karena satu hal marah kepada Presiden SBY. Padahal saat itu, Ketua Umum PAN, Hatta Radjasa merupakan salah satu orang kepercayaan SBY. Namun “pertengkaran” antara SBY dan Amien Rais hanya berlangsung sekilas. Proses komunikasi dua tokoh ini selesai di Bandara Halim Perdana Kusumah. Saat itu, SBY bertemu Amien di ruang VVIP Bandara Halim jelang lawatannya ke luar negeri. Case closed.

Lalu apa sebenarnya yang ditawarkan kepada Amien oleh SBY sehingga bisa berdamai? Ada banyak hal tentu saja. Panggung politik di era demokrasi merupakan seni bargaining, tawar menawar kepentingan dan seni untuk mewujudkan kepentingan satu sama lain, bukan kepentingan satu pihak.

Jokowi nyatanya gagal meniru SBY untuk urusan ini. Presiden nampaknya lebih memilih bola menjadi liar sehingga suhu politik tak kunjung turun. Amien pun terus melancarkan psywar  dengan rajin mendatangi gedung parlemen layaknya seorang oposisi tulen. Bukannya menawarkan tawaran “perdamaian”, pihak Istana malah membiarkan serangan pribadi kepada Amien lewat tudingan menerima duit korupsi Alkes. Ini makin memperburuk keadaan tentu saja. Amien yang dikenal sebagai orang yang “putus urat takutnya”, makin gencar bergerak dan menyerukan agar 2019 Indonesia harus dipimpin oleh presiden yang baru. Untuk melawan tudingan korupsi terhadap dirinya, Amien membongkar seabrek “dosa-dosa” KPK dan mendukung penuh hak angket KPK yang digulirkan DPR.

Dengan memusuhi figur seperti Amien Rais, pihak Istana sebetulnya sangat dirugikan. Perjalanan pemerintah menjadi terus ditekan dan menyulitkan mereka untuk tetap merapatkan barisan hingga 2019. Solusinya, alangkah baiknya jika Istana dalam hal ini Presiden Jokowi melakukan politik akomodatif kepada Amien Rais dan barisan oposisi lain.

Presiden Jokowi dalam posisi yang rentan, karena tahun 2018 dinamika politik akan semakin kencang jelang Pilpres 2019. Sebaiknya Jokowi memperbanyak teman politik, melakukan politik akomodatif agar nyaman selama berkuasa. Ajaklah Amien Rais berkunjung ke Istana, atau bertemu di tempat yang netral, layaknya Presiden menyambangi Hambalang. Begitu lebih baik ketimbang membiarkan hiruk-pikuk saling kecam yang tak kunjung usai.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus