Memantik Api Politik Pilkada Sumatera Utara


Memantik Api Politik Pilkada Sumatera Utara

Sumatera Utara, salah satu provinsi di kawasan barat Indonesia ini, pada tahun 2015 lalu dihuni 13.937.797 jiwa dengan kepadatan 191 jiwa per kilometer. Tak lebih padat dari Jawa Timur, Jawa Barat, atau Jawa Tengah memang. Tapi, di provinsi inilah terdapat danau terbesar di Indonesia, Danau Toba yang merupakan hasil letusan gunung berapi besar pada silam. Atau, di provinsi inilah terdapat gunung Sinabung yang sejak tahun 2013 lalu tak pernah berhenti mengeluarkan isi perut bumi dari kawahnya.

Tak ada relasinya memang, antara keberadaan gunung api yang tak kunjung padam atau letusan maha dahsyat di masa silam dengan politik masa kini. Tahun 2018 mendatang, Sumatera Utara yang kerap disingkat Sumut akan menggelar pemilihan gubernur dan wakil gubernurnya.

Meski tak seheboh Pilkada Jabar dan Jatim memang, mengingat tak ada nama beken yang digadang-gadang maju bertarung memperebutkan kursi panas Sumut 1 sejak jauh hari. Namun, bak memantik api politik di Sumut, Pangkostrad sekaligus Ketua Umum PSSI, Letjen Edy Rahmayadi mendaftar sebagai bakal calon gubernur Sumut lewat Partai Hanura.

Walaupun tak mendaftar secara langsung, masuknya nama Edy ke bursa bakal Cagub Sumut pasti memantik api politik di Sumut. Munculnya nama prajurit militer aktif di Pilkada bukanlah hal tabu, namun, dia harus mengundurkan diri jika benar-benar mendaftar sebagai calon gubernur ke KPU Provinsi Sumut nanti.

Bukan hal mudah bagi Edy untuk bisa menjadi calon gubernur, selain harus meninggalkan karir militernya yang cemerlang, ia juga harus berpikir keras untuk bisa mendapat dukungan dari partai politik yang punya kursi di DPRD Sumatera Utara. Dukungan minimal 20 kursi DPRD Sumut harus diperolehnya jika ingin melenggeng mulus hingga pencalonan.

Hal tersebut terlihat sulit, mengingat Edy harus "mengambil hati" dari para elit parpol yang mungkin saja sudah punya jagoan sendiri di Sumatera Utara. Belum lagi soal popularitas dan elektabilitas. Soal popularitas, Edy yang pernah menjadi Pangdam I/Bukit Barisan mungkin masih punya cukup kenalan di Sumatera Utara, tapi, apakah masyarakat luas mengenalnya? Belum tentu. Apalagi elektabilitas, jika masyarakat sudah mengenalnya, apakah akan memilihnya? Belum tentu juga. Apalagi, orang-orang yang tahu kalau Edy juga punya jabatan sebagai Ketum PSSI pasti akan berpikir, apakah dirinya mampu membagi konsentrasi mengurusi masalah sepakbola dan masalah Sumatera Utara yang begitu kompleks.

Ya, bukanlah hal baru orang dengan latar belakang militer berkecimpung di politik. Pengalamannya hidup dan berbaur dengan masyarakat selama bertugas sebagai militer bisa menjadi nilai tambah dalam menawarkan gagasan-gagasan yang tepat dan cemerlang, untuk menyelesaikan beragam permasalahan rakyat. Namun, politik tak sekedar menawarkan gagasan, ada banyak faktor lain yang menentukan seseorang akan dipilih, atau bahkan sekedar diusung oleh parpol untuk menjadi calon kepala daerah.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus