Menumbuhkan Nasionalisme Millenial


Menumbuhkan Nasionalisme Millenial

Di era Indonesia kontemporer, gagasan nasionalisme ditantang anak muda, khususnya generasi milenial. Generasi yang lahir berdampingan dengan pesatnya revolusi teknologi, generasi yang kecanduan dengan kecepatan informasi, dan sosok generasi yang berani memberontak terhadap tradisi.

Mereka kini dituding tidak cinta NKRI,  padahal generasi ini memang tidak lagi mempersoalkan teritori. Internet membantu generasi Y mempelajari budaya dunia,  mendobrak batas negara, dan mengoreksi cara orang-orang lama berbangsa.

Bila masih ada para pemimpin bangsa menerjemahkan nasionalisme dengan program bela negara, kampanye beli produk Indonesia dan menggunakan pakaian batik di Hari Batik Nasional, sepertinya bapak-ibu yang kini sedang memimpin negara harus segera banyak bergaul dengan anak muda.

Anak muda, punya cara asyik nan kreatif dalam mempromosikan nasionalisme. Generasi millenial tidak terlalu suka dikarantina ikut pendidikan bela negara, mereka lebih senang traveling ke setiap sudut keindahan Indonesia. Mewartakan potensi wisata alam, kuliner, budaya, sembari mengundang wisatawan mancanegara melalui blog maupun vlog.

Generasi ini tidak mau hanya didikte menjadi konsumen produk dalam negeri dan formalitas menggunakan batik sebagai identitas nasional. Mereka lebih ambisius dari para pendahulunya.

Kemauan keras ingin bermetamorfosis dari konsumen menjadi produsen, membuat generasi yang mengutamakan kolaborasi ini, berlomba-lomba menggali inspirasi dari tradisi, lalu menciptakan industri kreatif yang dapat mencuri perhatian pasar global.

Bagi para pemimpin negara yang semakin menua, generasi Y seolah tidak kenal jeda berinovasi. Semangat zaman berhasil memaksa orang-orang tua harus segera sadar diri, bahwa mereka tidak bisa memegang kendali, dan harus membuka diri berkolaborasi dengan anak-anak muda.

Banyuwangi
Kita perlu banyak belajar menerjemahkan nasionalisme dari Banyuwangi. Sebuah kabupaten pinggiran Jawa Timur yang mampu disulap oleh seorang santri nasionalis sekaligus  Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Ditangan Azwar Anas, nasionalisme mampu beradaptasi diterjemahkan menjadi program konkret yang melibatkan partisipasi seluruh elemen birokrasi, swasta, masyarakat juga anak muda.  Sosoknya  mewakili santri dan kelompok nasionalis menjadi modal sosial utama dalam membangun kolaborasi multipihak lintas generasi.

Buah kolaborasi dari inisiatif pria kelahiran Banyuwangi yang sempat menjabat sebagai anggota DPR/MPR RI saat berumur 24 tahun, adalah menciptakan inovasi tata kelola kota yang baik,  menguatkan sektor pariwisata, memanfaatkan teknologi dengan efektif, dan mensejahterakan kehidupan masyarakat.

Bupati Azwar Anas punya cara yang patut ditiru oleh kepala daerah lainnya, terutama stratategi menciptakan iklim partisipasi dan memantik semangat nasionalisme anak muda. Ia mampu memutus jarak antara pemerintah dengan anak muda dan menanamkan semangat nasionalisme dalam berbagai even eco-tourism yang dikemas dalam Banyuwangi Festival.

Festival-festival seperti Banyuwangi Ethno Carnival, Banyuwangi Jazz Festival, Tour de Ijen  mampu menyedot perhatian wisatawan dunia sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pembangunan infrastruktur sampai ke dusun-dusun dan keberhasilan festival tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah bisa bekerjasama dengan anak-anak muda yang mencintai tanah air Indonesia dengan cara berbeda.  

Jerih payah tidak pernah menghianati. Kini Banyuwangi diburu oleh travelers  dari seluruh penjuru dunia. Siapa sangka dahulu Banyuwangi yang terkenal karena santet dan klenik berubah menjadi tempat wisata level internasional yang wajib dikunjungi.

Semua terjadi berkat seorang pemimpin daerah yang memahami perilaku generasi muda dan generasi muda yang memanfaatkan kepercayaan pemimpin daerah dengan tepat guna.

Belajar dari pengalaman Azwar Anas, kita mestinya paham, anak muda dan kolaborasi merupakan unsur  terkuat nasionalisme. Para pemimpin Indonesia perlu mencari strategi menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi millennial dengan cara yang mereka sukai.

Karena nasionalisme tidak selalu soal anak muda yang hobi orasi, meneriakkan NKRI harga mati, tiap hari diskusi politik dan siap mati untuk negara. Namun, nasionalisme harus tumbuh bersama dari daerah masing-masing, dengan karya yang hidup dan menghidupi bangsa.  

Sebagaimana kata Azwar Anas, “Rasanya sudah lama anak-anak muda kita tak diajak untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dengan aktivitas selain upacara atau seminar saja”.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus