Pendukung Setnov Harus Diruqyah Massal


Pendukung Setnov Harus Diruqyah Massal

Partai lain senang jika Golkar terpecah belah. Kondisi ini harus menjadi warning keras bagi seluruh kader Partai Beringin.

Salah satu penyebab terbelahnya: banyak kader Golkar tidak nyaman akan kepemimpinan Setya Novanto. Setnov tidak bisa memberikan teladan.

Meski menang praperadilan, Setnov masih tersandera kasus e-KTP. KPK masih memiliki banyak bukti kuat untuk kembali menjeratnya menjadi tersangka.

Sejak memimpin Golkar, elektoral Partai ini terus anjlok. Terseok-seok di banyak Pilkada, bahkan terancam tidak lolos ParliamentaryThreshold 2019.

Bertubi-tubi mendapat musibah dengan banyaknya kader yang menjadi tersangka korupsi, tentu menggerus kepercayaan publik.

Para calon Kepala Daerah di Pilkada 2018 dan Calon Anggota Legislatif Golkar 2019 dibebani tugas berat meraih kembali simpati publik. Kasihan, padahal masih banyak politisi Golkar yang bersih, berintegritas dan potensial. Mereka harus mengubur mimpinya menjadi menjadi Bupati, Walikota, Gubernur atau Anggota Legislatif hanya gegara image Golkar yang dikenal sebagai sarang KORUPTOR.

Memang kebesaran Golkar harus diakui. Meski elitnya kerap bertikai, bahkan berujung pada keluarnya politisi Golkar yang kemudian mendirikan partai baru. Sebut saja Partai NasDem, Gerindra, Hanura, yang semua kelahirannya dibidani eks politisi senior Golkar. Namun hingga Pemilu 2014 yang lalu, Golkar tetap bercokol sebagai Partai besar papan atas.

Hal itu berbeda dengan sekarang. Jika dulu Golkar masih mengakar di akar rumput karena berhasil melahirkan kader hebat, politisi ulung dan pejabat yang teruji. Elit Golkar hari ini mempertontonkan ketidakwarasan yang tidak bisa diterima akal sehat publik. 

Masyarakat semakin cerdas. Terlebih generasi millenial yang hari ini menguasai opini publik di Sosial Media adalah generasi yang menjadikan korupsi sebagai musuh besar Bangsa. Jika sekelompok elit di tubuh Partai Beringin itu masih mempertahankan Setnov dengan segala potensi merusak dan sumber masalah anjloknya elektabilitas Golkar, maka bersiaplah untuk tidak memiliki Wakil Rakyat di DPR RI. Seperti kata Akbar Tanjung, apa gunanya berpartai jika tidak memiliki keterwakilan di pusara kekuasaan baik legislatif maupun eksekutif!

Kondisi Golkar yang compang-camping hari ini tentu masih bisa ditambal sulam. Upaya bersih-bersih adalah sebuah keniscayaan. Ruqyah massal pendukung Setnov harus dilakukan. Jika tidak segera, Golkar terancam BUBAR!

Berbagai survei sudah tegas menunjukkan anjloknya tingkat keterpilihan Golkar. Bukan tidak mungkin partai lain happy dengan itu. Lawan politik Golkar tentu akan ikut menggoreng agar Golkar semakin terpuruk. Namun sejatinya, jika para kader mau berkaca, musuh terbesar partai ini bukan dari serangan luar, melainkan kondisi internal. Sumber penyakitnya ada di Setnov. Mempertahankannya sama saja memelihara masalah. Memodifikasi istilah pelawak Kasino: "Masalah dipiara, kambing dipiara biar gemuk."

Post a Comments
blog comments powered by Disqus