Kader Golkar: Setnov Bukan Mangkir tapi Kabur dari Panggilan KPK


Kader Golkar: Setnov Bukan Mangkir tapi Kabur dari Panggilan KPK

Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto mangkir lagi dari panggilan KPK sebagai saksi. Setelah penetapan Setnov menjadi tersangka untuk kedua kalinya, kali ini alhamdulillah ia sehat. Bahkan tetap bisa menghadiri beberapa kegiatan baik di DPR maupun di Golkar. 

Hal itu berbeda dengan saat penetapan tersangka yang pertama dulu, dimana Setnov langsung jatuh sakit hingga harus dirawat beberapa hari. Setelah menang praperadilan, baru kondisi kesehatan Setnov membaik dan ia bisa keluar dari RS.

Pantauan saya yang biasa meliput di DPR pada Senin (13/11), pagi, beberapa wartawan sudah banyak yang tahu jika Setnov sedang kunjungan ke sebuah Panti Asuhan di NTT. Jadi wartawan tidak ada yang standby di pintu lobi Gedung Nusantara III, tempat masuk ruangan Pimpinan DPR. Hanya beberapa yang menunggu siapa tahu ada Pimpinan DPR yang lewat dan bisa diminta keterangan terkait mangkirnya Setnov.

Namun tetap saja gedung DPR sepi anggota. Karena memang saat ini masih dalam Masa Reses, dimana Anggota sedang kegiatan ke daerah untuk menyerap aspirasi di Dapilnya masing-masing.

Para wartawan di DPR hanya bisa mengonfirmasi keterangan dengan menghubungi via telpon baik dari Kuasa Hukum Setnov maupun pengurus Partai Golkar. Dan salah satu keterangan yang bisa dijadikan berita para wartawan DPR adalah rilis berita dari Anggota DPR Fraksi Golkar yang kebetulan berseberangan dengan Setnov. 

Adalah Ahmad Doli Kurnia, yang juga Koordinator Generasi Muda Partai Golkar (GMPG), yang mengirim rilis dan menyebut Setnov bukan mangkir apalagi Reses. Melainkan kabur karena mendengar saran dari Kuasa Hukumnya, Freidrich Yunadi.

Kata Doli, Setnov merasa jumawa dengan posisinya sebagai Ketum Parpol besar dan Pejabat Tinggi Negara yang menganggap dirinya raja, namun dia, masih kata Doli, adalah raja yang dzalim di negeri dongeng. 

Setnov, menurut Doli, entah karena merasa positioningnya masih kuat dengan support dari oknum di Istana / yang berada di lingkaran kekuasaan, yang bisa menjamin status hukumnya, sehingga ia bisa seenaknya saja melabrak aturan hukum dengan logika kesesatan berfikirnya terhadap hukum.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus