"Pilgub Jateng : Seksi Tapi Penuh Misteri"


"Pilgub Jateng : Seksi Tapi Penuh Misteri"

Beberapa bulan lagi perhelatan besar akan dilaksanakan di Jawa Tengah. Perhelatan di salah satu provinsi tempat dimana orang nomor satu di negeri ini dilahirkan. Iya, sebut saja perhelatan itu adalah Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng periode 2018 – 2023. Jateng punya segudang potensi yang hampir dikatakan berimbang dalam semua lini. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk para calon dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh daerah ini.

Keseriusan dalam pembangunan dan pengoptimalan potensi daerah ini muncul dari beberapa calon yang berdatangan, baik dari calon pusat maupun lokal. Beberapa calon pusat tersebut adalah beberapa eks menteri Jokowi, diantaranya Marwan Ja’far, Sudirman Said, dan Waketum Partai Gerinda Ferry Juliantoro. Sedangkan beberapa calon lokal tersebut adalah gubernur petahana Ganjar Pranowo, Mustofa (Bupati Kudus), dan Yoyok Sudibyo (Eks Bupati Batang). Dari nama-nama diatas, ada beberapa yang kerap di beritakan oleh media massa, diantaranya Marwan Ja’far, Sudirman Said, Ferry Julianto dan tentunya Ganjar Pranowo. 

Pilgub Jateng memang sangat seksi untuk dibicarakan. Tidak heran jika hasrat untuk memimpin daerah ini begitu besar. Akan tetapi, banyak misteri pula tatkala kita berbicara tentang pilgub ini. Dua Provinsi tetangga yaitu Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Barat (Jabar) sudah lebih dulu memperkenalkan beberapa calon yang pasti maju,  bahkan di Jabar, salah satu calon gubernurnya sudah melakukan konferensi kepada awak media terkait kepastian untuk maju, sebut saja Ridwan Kamil. Ini menjadi poin kuat argumen kenapa Jateng sangat misteri.

Beberapa fakta  yang ditemukan di Jateng cukup mengkhawatirkan. Sampai saat ini belum ada satu calon yang membenarkan diri untuk maju dalam pilgub Jateng. Kebanyakan ketika ditanya tentang keseriusan, jawaban mereka hanya asumsi dan bukan konferensi. Fenomena ini dibenarkan setelah beberapa partai pengusung calon, masih melakukan survei atas elektabilitas calon yang ingin diajukan. Misteri-misteri mulai bermunculan yang mengakibatkan pembangunan opini publik kearah hal-hal negatif. 

Partai tidak siap
Salah satu hal negatif tersebut adalah ketika belum ada satu calon gubernur yang membenarkan maju dan melakukan konferensi kepada awak media, ini menunjukkan ketidaksiapan partai mengusung calon dalam mengikuti pilgub, sehingga publik tidak percaya atas calon yang diusung. 

Logikanya adalah, semakin lama calon dikenalkan ke publik, semakin singkat juga waktu yang dimiliki calon dalam merumuskan gagasan-gagasan dalam membangun Jawa Tengah. Belum lagi ada masalah chemistry yang harus dibangun diantara pasangan yang diusung. Hal negatif selanjutnya adalah penuangan visi misi calon kurang optimal, banyak potensi daerah yang terlewatkan dalam penuangan visi misi yang berakibat terhadap nilai jual gagasan ini kepada masyarakat. 

Disamping itu, publik bertambah keyakinan terkait indikasi partai untuk main-main terhadap pilgub Jateng yang disebabkan oleh manajemen partai yang tidak bagus. Partai tidak tahu kapan harus mengusung dan memperkenalkan calon ke publik. Dampaknya, partai membangun opini bahwa pilgub Jateng bukan milik bersama tapi hanya beberapa golongan tertentu. Inilah yang menjadi alasan kuat kenapa partisipasi politik masyarakat nantinya menurun. 

Melihat fenomena tersebut, solusi yang kemudian diambil oleh partai adalah  “money politic”. Solusi ini punya peranan penting dalam mengerakkan mesin suara dalam pilgub Jateng ini. Hal inilah yang disayangkan, karena partai yang seharusnya menjadi sarana pencerdasan politik kepada masyarakat berubah menjadi alat yang menyesatkan. 

Walaupun demikian, pilgub Jateng masih dalam bingkai seksi dan sampai saat ini masih banyak misteri yang belum terungkap, baik benar atau salahnya, karena politik sangat dinamis. Pembelajaran yang bisa diambil dari fenomena ini adalah ketika proses sesuatu tidak maksimal maka hasil yang di dapat juga akan sama, tidak maksimal juga. Begitu sebaliknya. 

Hal penting yang bisa kita lakukan adalah melihat beberapa nama calon yang sudah bermunculan secara objektif. Publik juga bisa melakukan gerakan pencerdasan dan menegaskan kepada masyarakat bahwa golput bukan solusi. Apalagi menerima “money politic”, sehingga kaidah untuk tidak mendiamkan masalah tidak terwujud dalam Pilgub Jateng ini. Semoga misteri ini bisa cepat diakhiri dan publik segera tahu terang benderang siapa calon yang layak dipilih.

 

Oleh : M. Mugnil Labib

Post a Comments
blog comments powered by Disqus