Antara Mitos Beruntung atau Sial Pileg 2019

Comments 130 Views Views


Antara Mitos Beruntung atau Sial Pileg 2019

SIPerubahan - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menentukan nomor urut untuk 14 partai politik yang akan berlaga pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang.  Seluruh partai politik memiliki tafsiran dan makna tersendiri terhadap nomor urut tersebut, yang dipercaya mampu memengaruhi kesuksesan partai mereka di kontestasi politik 2019.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), misalnya.  Partai yang dipimpin oleh Muhaimin Iskandar ini ramai disebut-sebut di media sosial dengan tagar #PKBNomor1. Beberapa warganet menganggap nomor satu sebagai nomor keberuntungan. Alasannya, nomor ini identik dengan juara satu atau yang paling utama.

Lain halnya lagi dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (atau Gerindra), yang mendapatkan nomor dua. Nomor ini juga kerap dihubungkan dengan mitos kemenangan, karena selain nomornya mudah dihafal dan diaplikasikan dalam beragam bentuk, juga melambangkan huruf ‘V’ (atau Victory) yang artinya kemenangan.

Lalu bagaimana dengan partai yang mendapatkan angka ‘sial’ secara mitos?

Siapa sangka partai besutan Jenderal Purnawan Wiranto yaitu Hati Nurani Rakyat (Hanura), mendapatkan nomor urut 13. Seringkali angka ini sering disebut dalam berbagai mitos sebagai nomer ‘sial’, terutama di negara barat, karena terkait dengan peristiwa ‘Friday 13th’.

Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (Oso) seakan tak kehabisan akal. Ia berasumsi angka 13 itu jika disambung mirip dengan huruf B, yang artinya ‘Berkah, Berhasil, Baik, dan Besar’. Ia mengharapkan Hanura bisa lebih baik, berkah, berhasil, dan besar di tahun 2019 nanti.

Selain 13, angka yang kerap beredar menjadi mitos masyarakat adalah angka 4. Angka tersebut sering dikaitkan dengan kursi terbalik, atau sering diartikan sebagai bencana. Adalah partai Golongan Karya (Golkar) di bawah pimpinan Airlangga Hartarto yang memegang angka tersebut.

Airlangga Hartarto sendiri menegaskan angka 4 sebagai perwujudan 4 pilar kebangsaan, yakni UUD, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Seperti diusung mendiang Taufik Kiemas, mantan Ketua MPR RI. Ia pun melanjutkan, angka 4 ini sejalan dengan empat misi pemenangan Golkar: “sukses Pilkada, sukses Pemilihan Legislatif, sukses Pemilu Presiden dan sukses menuju Indonesia Sejahtera.”

Di sisi lain, menurut pendiri Sekolah EsTetikA sekaligus Budayawan Ahmad Arief Tarigan, M.Si, mitos angka dalam nomor urut partai politik hanya sebatas simbol untuk menggerakkan massa.

“Intinya, sebagai partai yang umumnya berbasis massa-populer, tafsiran angka bertujuan untuk membangun mitos partai. Mitos sangat bermanfaat karena punya energi tertentu yang mampu menggerakkan sekaligus mengundang respon tertentu baik dari internal, eksternal, maupun simpati konstituen partai," papar Arief.

Selain sebagai simbol penggerak massa, nomor urut partai juga mampu memancing memori masyarakat untuk ikut melakukan penafsiran. Sebut saja, masyarakat masih mengingat nomor urut pemilihan periode sebelumnya atau nomor urut legendaris yang seringkali memenangkan pemilu.

Penafsiran terhadap nomor urut partai sah-sah saja, selama niatnya untuk membangun semangat demokrasi dan persatuan bangsa ini. Nomor urut bukan penentu faktor kemenangan dan bukan sesuatu yang harus dikultuskan. Sebab faktor kemenangan utamanya ditentukan oleh sikap politik dan gagasan konkret untuk membangun negeri. (Eln/ Dbs)

Post a Comments
blog comments powered by Disqus