Sila Yatim Piatu


Sila Yatim Piatu

“...sila yang selama ini menjadi sila yatim-piatu adalah sila kelima...” - Buya Syafii Maarif -

Sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” dipandang oleh Buya Syafii Maarif saat ini sebagai sila yatim-piatu. Pernyataan itu beliau katakan di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng (16/3) saat menyampaikan pengantarnya dalam acara peluncuran buku “Reformulasi Ajaran Islam: Jihad, Khilafah dan Terrorisme”. 

Sangat beralasan jika buya mengungkapkan itu. Karena selama ini sila kelima sudah dirudapaksa oleh para  politisi sebagai kampanye utama mereka. Namun kenyataannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanyalah awang-awang belaka.

Tingginya angka kesenjangan di Indonesia menjadi bukti utamanya. Gini ratio yang disampaikan BPS per maret 2016 menunjukkan angka itu masih menganga, yakni 0,39. Angka kesenjangan ini memang turun sebanyak 0,02 dari sebelumnya. Namun patut dicermati bahwa negara yang kaya ini seharusnya bisa hidup makmur. Lantas apa yang menjadi halangan bangsa ini untuk menjadi sejahtera?

Memang bila ditinjau secara lebih detail lagi, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi itu semua. Mulai dari faktor manusianya hingga ke faktor kebijakan yang diterapkan oleh negara. Khusus faktor manusianya ini, terutama umat manusia yang beragama Islam. Yang Tauhid menjadi keyakinannya. Buya menyindir dengan bahasa yang cukup lantang. “Tauhid yang tidak menjelmakan keadilan sosial adalah tauhid mandul!” Begitu kata Buya.


Umat Islam sebagai umat yang memegang risalah agama yang rahmatan lil’alamiin hendaknya menjadi pelopor utama untuk mewujudkan keadilan sosial ini. Tidak bertele-tele dengan berbagai macam bentuk kemalasan. Atau masih kekeh mempertahankan sarkasme dan paham sektarian. Sehingga upaya untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamiin itu menjadi terhalang. Persoalan yang seperti inilah yang seharusnya diselesaikan dengan tetap menjunjung tinggi jiwa egalitarian. Kemanusiaan menjadi tolok-ukur untuk hidup berdampingan dengan saling bertoleransi. Dengan begitulah sesama kita bisa saling merangkul untuk mewujudkan keadilan sosial.

Ungkapan sila yatim-piatu yang dinyatakan oleh Buya ini cukup untuk menjadi cemeti bagi bangsa Indonesia pada umumnya untuk sadar dan mau bangkit untuk membangun negeri ini secara bahu membahu untuk menggapai peradaban yang lebih mulia kedepannya.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus