Kontroversi Pernyataan Ketum PMII


Kontroversi Pernyataan Ketum PMII

“Salaamatul Insan Fii Khifdzil Lisan..” (Keselamatan seseorang bergantung pada ketrampilan orang tersebut dalam menjaga lidahnya”.

Lidah memang tidak bertulang, sehingga ia sangat mudah untuk bergerak, berkelit dan berjumpalitan kemanapun. Meskipun sangat lunak dan lembut, namun produk yang dihasilkan lidah itu sendiri bisa bermacam-macam. Ada yang bisa melahirkan hikmah dan manfaat, ada juga yang pedih dan menyakitkan.

Dengan lidah, seseorang bisa meraih pahala. Namun dengan lidah pula seseorang dapat mengumpulkan tumpukan dosa. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga segala ucapan yang terlontar dari lisan (lidah) kita agar segala pernyataan yang kita ucapkan mampu membawa kebaikan, mendatangkan pahala dan tidak menyakiti siapapun. Jika kita tidak mampu menjaga lidah, maka mudah sekali kita melukai hati orang lain, dan tentu hal tersebut adalah perbuatan yang tidak baik.

Kali ini kita bisa lihat yang dilakukan Ketua Umum PB PMII. Saat memberikan sambutan pada acara Kongres PB PMII Ke-XIX di Palu, Ketua Umum PB PMII, Aminudin Ma’ruf menyebutkan pihaknya sengaja memilih Palu, Sulteng sebagai tempat pelaksaan Kongres dikarenakan daerah tersebut merupakan pusat dari gerakan radikal Islam yang menentang NKRI.

Hal tersebut sontak menjadi berita yang menghebohkan media masa. Sebab dalam pernyataannya tersebut Aminudin dirasa telah melukai hati masyarakat Palu, Sulawesi Tengah. Tidak hanya itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola,  menyerukan Aminudin untuk meminta maaf di depan publik atas perkataan yang tidak terkontrol tersebut.

Di depan Presiden Joko Widodo, Aminudin telah salah memberikan penilaian terhadap kondisi masyarakat Tanah Tadulako. Bahkan, Gubernur Longki juga meminta agar Aminudin membaca sejarah bagaimana syiar Islam dibawa ke Sulteng oleh ulama-ulama terdahulu.

Sebagai seorang yang memiliki intelektualitas tinggi, pernyataan Aminudin itu tentu kita sayangkan bersama. Tidak semestinya Aminudin berbicara demikian di depan kader-kader PMII peserta kongres, terlebih juga di depan presiden, menteri dan pejabat Sulteng sendiri.

Etika Aminudin perlu dipertanyakan sebab bukannya berterima kasih karena sudah diterima untuk mengadakan hajatan besar organisasinya di tanah Palu, malah memberikan pernyataan yang menyakitkan. Sedikit banyak tentu masyarakat dan pejabat setempat juga memberikan sumbangsih baik moril maupun materil untuk mendukung kesuksesan acaranya tersebut.  

Sekali lagi peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Sudah semestinya kita mengutamakan sikap kehati-hatian sebelum berucap. Jangan sampai, karena lidah yang salah berucap dosa mengancam hidup kita. Mari belajar menjaga lisan.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus