Suka Duka Studi di Tiongkok


Suka Duka Studi di Tiongkok

“Carilah ilmu meskipun di negeri Cina”

 

Carilah Ilmu meskipun ke negeri Cina, begitu titah sebuah hadis yang sekalipun lemah derajatnya, tetapi menjadi bukti tentang posisi strategis Cina untuk menuntut ilmu. Mungkin bagi sebagian orang, Studi ke Cina (atau sekarang disebut dengan Tiongkok) menjadi sebuah impian karena ketertarikannya dalam budaya timur tersebut. Namun bagi sebagaian, mungkin beranggapan studi di Tiongkok adalah buruk dengan perspektif yang ke barat-baratan. Oleh karena itu, saya mau coba membahas dan mengulas suka duka studi di Tiongkok dari beberapa pespektif.

Presepsi Masyarakat Indonesia

Sejarah yang kelam yang pernah dihadapi Indonesia dengang Tiongkok, khususnya dalam kontroversi gerakan 30S PKI, seakan membuat Tiongkok adalah ide buruk untuk melanjutkan studi. Bebarapa orang beranggapan bahwa mereka yang melanjutkan studi di Tiongkok adalah “Antek-Antek Cina” atau “Penerus Aliran Komunis” dan lain sebagainya.

Saya sendiri sangat menyayangkan hal tersebut karena sebagai  presepsi tersebut bagi saya adalah presepsi yang tidak berdasar ilmu yang update. Saya menilai bahwa masyarakat yang beranggapan bahwa para pelajar Indonesia yang berkuliah di Tiongkok adalah sebagai antek Cina atau penerus komunis adalah mereka yang tidak update terhadapa ilmu pengetahuna dan perkembangan Zaman.

Tiongkok pada saat ini adalah Negara yang tidak bisa disamakan dengan Negara-negara komunis pada masa perang dingin. Walaupun sistem pemerintahannya masih dikategorikan sebagai sistem komunis, namun perekonomian dapat dikatak liberal. Dengan alas an tersebut lah perekonomian Tiongkok dapat melesat dengan sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, masa saat ini adalah masa globalisasi dan bukan masa perang dingin. Masa globalisasi adalah masa dimana ilmu pengetahuan tidak terbatas hanya kepada lingkup batas Negara, namun batas-batas Negara sudah tidak dapat menjadi penghalang dalam menuntut ilmu. Masa ini bukanlah masa perang dingin dimana kita dianggap sebagai antek-antek sebuah Negara ketika kita tinggal dalam sebuah Negara tersebut. Persaingan sesungguhnya yang terjadi sekarang ini bukanlah persaingan ideology seperti perang dingin melainkan persaingan ilmu pengetahun.

Saya menyadari bahwa masyarakan yang mengahikimi para pelajar Indonesia di Tiongkok seperti pendapat di atas adalah atas dasar nasionalisme. Tetapi rasa nasionalisme tanpa pengetahuan yang update adalah hal yang dapat menghancurkan diri sendiri.

Menjadi pribadi yang memiliki nasionalisme tinggi adalah hal yang sangat baik, namun nasionalisme tanpa pengetahuan universal rasanya sangat kurang bagus untuk diterapkan. Salah satu duka yang dirasakan para pelajar Indonesia yang ada di Tiongkok adalah dianggap menjadi antek antek Cina dan Penganut paham komunis. Oleh karenanya diharapkan bahwa masayarakat dapat memiliki pengetahuan yang update dan universal dalam meningkatkan nilai-nilai nasionalisme nya sehingga duka yang dirasakan pelajar Indonesia di Tiongkok saat ini dapat terobati.

Bahasa Tanpa Alphabet dan Huruf “Benang Kusut”

Bagi sebagaian Pelajar Indonesia yang baru datang ke Tiongkok, mungki karakter/aksara Tiongkok merupakan mimpi buruk bagi mereka. Ya, karena segala bentuk informasi dan tulisan yang ada diberbagai sudut kota adalah dalam bahasa mandarin. Oleh karenanya, sebagai pelajar dari Negara yang menggunakan alphabet, kita harus belajar ekstra untuk mengetahui dan memahami huruf-huruf tersebut.

Berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudiang. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Mungkin pribahasa itu tepat untuk para pelajar yang menilai bahwa belajar aksara mandarin adalah duka bagi mereka. Kenapa? Karena ketika sudah menguasai aksara mandarin, hal tersebut akan menjadi suka bari para pelajar tersebut. Bagi foreigner di Tiongkok, dapat berbahasa mandarin adalah sebuah anugerah bagi mereka khususnya para pelajar. Hal ini dikarenakan semua hal dan segala sesuatu nya dapat berubah secara total jika kita bisa menguasai bahasa manadarin. Khusus untuk pelajar, kita akan mendapatkan banyak kesempatan untuk mempelajari budaya di Tiongkok jika kita pandai berbahasa mandarin.

Selain itu, melihat kedekatan Indonesia dan Tiongkok saat ini, maka para pelajar Indonesia yang bisa berbahasa mandarin akan mendapatkan peluang yang lebih besar di Indonesia karena akan semakin banyak perusahaan dan orang atau instansi yang membutukan lulusan yang bisa bahasa mandarin. Sebagai bahasa yang di pakai lebih dari 1,3 milyar orang, menguasai bahasa ini juga sangat menolong untuk menunjang karir baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Makanan Halal dan Solat

Bagi pelajar muslim Indonesia yang berkuliah di Tiongkok, mungkin makanan halal adalah masalah utama yang dihadapi oleh mereka ketika tiba di Tiongkok. Ya, salah satu duka bagi pelajar muslim adalah mencari makanan halal karena Negara Tiongkok adalah Negara yang mayoritas masyarakatnya bukan muslim. Dengan demikian, para pelajar haruslah cermat dalam mempersiapkan makanan serba “babi” seperti minyak babi atau daging babi.

Namun, pada saat ini sudah mulai berkembang komunitas dan organisasi muslim Indonesia di berbagai kota di Tiongkok. Komunitas dan organisasi tersebut membantu para perlajar muslim baru untuk mengidentifikasi makanan-makanan halal. Hal ini setidaknya mempermudah para pelajar muslim ketika ingin mencari makanan halal.

Selain itu, akses ke tempat sholat seperti masjid cukup jauh dari tempat tinggal. Tiongkok tidaklah seperti Indonesia yang terdapat masjid tiap RT atau RW. Namun hal ini menjadi tantangan tersendiri  bagi pelajar muslim. Banyak yang bependapat bahwa Iman seseorag diuji bukan pada level nyaman mereka, namun keimanan orang diuji ketika mereka menghadapi kesulitan. Kesulitan menuju ke tempat ibadah adalah salah satu contohnya.

 

 

Sumber Photo: http://manajemen.uad.ac.id/wp-content/uploads/media/IMG-20160819-WA0002-700x441.jpg

 

??????????? ????????? ?????? ???????????? ??????? ?????? ????????? ?????????? ????? ????? ????????

Post a Comments
blog comments powered by Disqus