Gus Dur dan Pendidikan Tanpa Dinding


Gus Dur dan Pendidikan Tanpa Dinding

Oleh: *Alfin Mustikawan

Tanpa terasa sewindu sudah KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa disebut Gus Dur meninggalkan kita semua. Sosok sederhana yang dirindukan dan dicintai oleh semua kalangan, baik dari kalangan muslim maupun non muslim, terlebih bagi kaum minoritas. Gus Dur merupakan figur fenomenal yang telah mewariskan nilai-nilai keberagamaan, keragaman, kenegaraan dan kemanusiaan bagi kita semua anak bangsa Indonesia. Setelah Gus Dur pergi, semua seakan menjadi “repot” karena belum ada figur lainnya yang mampu menjadikan suatu persoalan menjadi sederhana dan bisa diselesaikan dengan baik dan tetap damai. Gus Dur merupakan pemimpin sejati yang dibutuhkan dalam setiap zaman.

Pribadi Gus Dur selalu saja menjadi perbincangan hangat dimanapun berada hingga saat ini, figur Gus Dur selalu saja menarik untuk dikaji dari angle manapun karena begitu komplitnya sosok beliau. Gus Dur merupakan seorang kyai yang ‘alim, intelektual islam yang produktif, budayawan,  politikus ulung yang disegani oleh  kawan maupun lawan. Gus Dur merupakan produk paripurna dari pendidikan pada zamannya.

Gus Dur lahir dari kalangan santri dengan nasab darah biru Nahdlatul Ulama (NU) begitu kata Greg Barton.  pada usia lima tahun dia sudah lancar membaca Al Quran dibawah bimbingan gurunya sekaligus kakeknya sendiri Hadratusyaikh Hasyim As’ary. Pendidikan formal Gus Dur dimulai di Sekolah Rakyat (SR), dan waktu diluar sekolah ia manfaatkan untuk mengikuti les bahasa belanda., Setelah lulus SR Gus Dur melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) dijakarta, dan setelah kepergian Ayahnya KH. Wahid Hasyim akibat kecelakaan mobil, Ibunya lalu meminta Gus Dur untuk hijrah ke Yogyakarta dan melanjutkan SMEP di Yogyakarta selain juga belajar di pesantren Krapyak dan di Yogya mulai mengenal referensi babon seperti Das Kapital yang ditulis oleh Karl Mark dab berinteraksi dengan kalangan terpelajar kota itu. Setelah dari Yogya Gus Dur pindah ke Magelang untuk mondok di pesantren Tegalrejo yang diasuh oleh KH. Chudori.

Gus Dur melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Syariah Universitas Al Azhar Mesir, meskipun pada akhirnya tidak diselesaikannya dengan alasan bahwa semua mata kuliah yang diberikan telah Ia dapatkan saat belajar di pesantren tanah air, akhirnya Gus Dur mengirimkan lamaran kuliah ke Universitas Bahdad di Iraq pada Departemen of Religion dan akhirnya pun diterima dan kuliah di sana hingga tamat. Di Iraq inilah Gus Dur merasakan mulai bisa berpikir sistematis dengan pengkajian metodologis yang tajam (Mudjia Rahardjo, 2007:197).

Pendidikan Tanpa Dinding

Banyak orang memiliki rekam jejak pendidikan formal seperti Gus Dur, akan tetapi kenapa mereka semua tidak bisa menjadi seperti Gus Dur?. Mungkin penulis bisa menjawab karena mereka semua tidak memiliki pengalaman seperti Gus Dur dalam melakukan proses pendidikan diluar pendidikan formal yang Ia tempuh. Gus Dur merupakan manusia pembelajar yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal baru.Hal tersebut bisa dilihat ketika Gus Dur masih di jenjang SMEP sudah menghatamkan buku Das Kapital, dia juga belajar bahasa belanda sekaligus mempelajari musik-musik klasik, film serta bergumul secara serius dengan buku-buku di perpustakaan Al Azhar dan Bahdad serta sekian pengalaman pendidikan diluar bangku sekolah lainnya. Pergumulan pemikiran Gus Dur seakan tak pernah berhenti meskipun telah lulus bangku kuliah, setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1970an Gus Dur langsung menawarkan dan memperjuangkan ide-ide bernasnya melalui beberapa forum diskusi serta gerakan pengembangan pemikiran Islam dan Demokrasi untuk mewujudkan keadilan sosial di Indonesia hingga akhir hayat.

Sosok kepemimpinan Gus Dur tumbuh dan berkembang setelah melalui proses pendidikan diluar dinding, rasa ingin tahu Gus Dur menembus dinding-dinding lembaga pendidikan untuk melengkapi spesifikasi kepemimpinan dirinya. Ia lewati itu semua dengan serius dan disiplin, Ia berguru pada kesuksesan dan juga berguru pada kegagalan sebagai konsekuensi logis dari ikhtiarnya.

Saat ini Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan yang serius. Berkaca dari pengalaman Gus Dur, untuk bisa menjadi pemimpin haruslah menempuh pendidikan formal maupun non formal, pendidikan yang dibatasi dinding terlebih pendidikan tanpa dinding. Krisis kepemimpinan yang terjadi di Indonesia dewasa ini tidak menutup kemungkinan akan berlanjut dimasa mendatang.

Apabila kita renungkan secara mendalam, sistem pendidikan di Indonesia bisa dikatakan hanya memprioritaskan pendidikan formal dan cenderung abai pada model pendidikan lainnya. Bisa dilihat mulai jenjang pendidikan dasar, menengah hingga tinggi yang orientasinya cenderung membatasi ruang gerak anak bangsa untuk bisa berkembang. Ambil contoh misalnya dengan pemberlakuan Full Day School pada jenjang sekolah dan pemberlakukan kurikulum pendidikan tinggi yang harus sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang begitu mengekang dan kaku. Hampir bisa dipastikan bahwa sistem pendidikan di Indonesia akan sulit sekali melahirkan pemimpin baru, yang ada akan menghasilkan para buruh terdidik sesuai dengan bidang pendidikannya.

Indonesia sebagai negara besar, dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa tentu harus segera berbenah diri untuk menghadapi tantangan global yang semakin berat. Membenahi sistem pendidikan merupakan sebuah keniscayaan yang harus segera dilakukan. Sebuah sistem pendidikan yang khas Indonesia termasuk juga pendidikan tanpa dinding yang berorientasi melahirkan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Dasar 1945 serta siap menjadi pemimpin Indonesia dimasa mendatang dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur di masa yang akan datang.Wallahua’lam Bishowab

*Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Founder Kampus Desa Indonesia

Post a Comments
blog comments powered by Disqus