JK-Luhut Serang Susi : Susi Banjir Dukungan


JK-Luhut Serang Susi : Susi Banjir Dukungan

Pemerintahan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo sedang menghadapi  wakil presiden dan kedua menterinya yang sedang berselisih paham, yakni antara  Jusuf Kalla, Luhut Pandjaitan dan Susi Pudjiastuti. Hal tersebut dipicu oleh perbedaan pandangan diantara ketiganya  dalam menyikapi para pelaku pencuri ikan diperairan Indonesia.

Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan  meminta Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan tidak lagi menenggelamkan kapal di 2018.  Menurut Luhut, saksi penenggelaman kapan sudah cukup dan Susi diminta fokus untuk meningkatkan produksi agar bisa mendongkrak ekspor agar lebih meningkat.

Karena bagi Luhut, lebih baik kapal yang terbukti melakukan illegal fishing  disita dan dijadikan aset negara ketimbang ditenggelamkan.

Berdasarkan aturan yang ada, apa yang disampaikan oleh Luhut diklaim berlandaskan hukum yang berlaku. Menurutnya memang terdapat beberapa sanksi bagi para pelaku illegal fishing seperti penenggelaman kapal, penyitaan bahkan mengambil kapal tersebut untuk keperluan pendidikan.

Jusuf Kalla mendukung apa yang diharapkan Luhut. Menurutnya dari pada negara harus membeli kapal menggunakan anggaran APBN lebih baik memanfaatkan kapal sitaan yang menganggur untuk diberikan kenelayan.

"Kita butuh kapal, ekspor perikanan kita turun, ekspor ikan tangkap turun. Di lain pihak ada banyak kapal nganggur. Jangan membeli kapal dengan ongkos APBN. Padahal, banyak kapal nganggur di Bitung, nganggur di sini, nganggur di Bali, di Tual, dan lain-lain,"keluh Jusuf Kalla. 

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  menjelaskan bahwa penenggelaman kapal  pelaku ilegal fishing telah sesuai UU yang berlaku. Dalam akun media sosialnya, Susi menerangkan penenggelaman kapal bukanlah kemauannya pribadi sebagai menteri tapi keputusan hukum dari pengadilan negeri.

Menanggapi keluhan Susi di media sosial, banyak warganet  yang memberikan dukungan terhadap langkah yang diambil Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut. Salah satunya adalah Ahmad Mustofa Bisri yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Kiai yang lebih sering disapa Gus Mus ini,  Melalui akun media sosialnya, menyakini apa yang dilakukan Susi demi membela kepentingan negara. 

"Menurut ku, ibu @susipudjiastuti hanya menjaga dan membela kepentingan Indonesia dan nelayan/rakyat Indonesia. Semoga Allah menjaga dan membela beliau," tulis Gus Mus, Selasa (9/1)

Tak mau ketinggalan, di media sosial, ekonom senior Universitas Indonesia Faisal Basri juga menegur sikap Luhut yang dirasa semakin menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Joko Widodo karena bertindak seolah bertindak sebagai seorang presiden.

"Yang bisa perintahkan menteri untuk mengubah adalah Presiden. Menko tugasnya mengoordinasikan kebijakan menteri-menteri dalam cakupan kerjanya,"  cuit Faisal Basri.

Perdebatan  ini pun semakin membanjiri Susi dengan berbagai dukungan dari berberbagai kalangan. Salah satunya Firman Soebagyo,  selaku Anggota Komisi IV DPR RI menilai  pelarangan yang dilakukan Luhut Binsar Panjaitan kepada Susi sangat kontraproduktif. 

Menurut Firman, sanksi tegas yang dilakukan Susi telah berhasil memberikan efek jera kepada para pencuri ikan di wilayah Indonesia.

“Penenggelaman kapal cukup efektif,  karena memang selama ini illegal fishing merajalela, karena tidak ada tindakan tegas. Tapi,  memang masalah penenggelaman kapal harus melalui proses-proses hukum dan mekanisme yang ada,” terang Firman di Gedung DPR RI,  Selasa, (9/1).

Menanggapi instruksi Luhut terhadap Susi, Firman menyatakan  bila negara ingin melakukan penyitaan kapal-kapal pencuri ikan untuk dijadikan aset negara,  negara harus memiliki landasan hukum yang kuat.

“Apakah aturan hukumnya itu memperbolehkan kalau ada pelanggaran kapalnya itu bisa dimanfaatkan. Jangan sampai kita memanfaatkan aset orang lain tanpa prosedur,” tegas Firman.

Hal serupa juga didukung oleh anggota Komisi IV DPR RI Ibnu Multazam. Ibnu menjelaskan bahwa penenggelaman kapal sudah diatur perundang-undangan dan semua pihak patut mematuhinya.

“Semua pihak di dalam penanggung jawab di dalam negeri harus melaksanakan UU, sebagaimana sumpah yang telah diambil.  Untuk itu, saya kira kalau kita melaksanakan UU, tidak ada yang perlu dikritik,” ungkap Ibnu.

Namun di saat bersamaan, Anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono memperingatkan Menteri Kelautan dan Perikanan agar lebih berhati-hati saat menenggelamkan kapal dan jangan dilakukan dekat dengan garis pantai.  

Selain dari kalangan anggota dewan. Dukungan pun diberikan oleh Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada Susi Pudjiastuti. 

Neta menyarankan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Kemaritiman tidak perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait penenggelaman kapal. Menurut Neta, kebijakan Menteri Susi itu telah terbukti mengamankan perairan Indonesia sekaligus meningkatkan kehidupan para nelayan dan meningkatkan produksi ikan dalam negeri.

Bagi Neta,  alasan Jusuf Kalla dan Luhut yang menyarankan kapal sitaan diserahkan kepada nelayan sangat tidak masuk  dan memalukan. Menurut Neta, akan sulit mencari mekanisme penyerahan kapal sitaan itu kepada nelayan.

"Apakah lewat bantuan hibah atau lewat sistem lelang. Jika lewat bantuan hibah, apakah para nelayan Indonesia mau menerima alat kejahatan pencurian ikan diserahkan kepada mereka. Di mana barokah-nya. Yang ada nelayan Indonesia akan dilecehkan nelayan-nelayan asing," Tegasnya, Rabu, (10/1).

Diketahui sejauh ini, Presiden Joko Widodo memang belum merespon secara langsung polemik yang sedang terjadi dikabinetnya. Namun, Jokowi memang terlihat sering memuji kebijakan penenggelaman kapal yang dilakukan menterinya tersebut. 

Bagi Jokowi,  Susi adalah seorang yang telah berperan besar dalam memberantas kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia.

"Sudah tiga tahun ini, ribuan kapal asing pencuri ikan semuanya sudah nggak berani mendekat. Karena apa? Semuanya ditenggelamkan sama Bu Susi," Kata Joko Widodo.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus