Ustaz Abdul Somad, NU, dan the Conservative Turn


Ustaz Abdul Somad, NU, dan the Conservative Turn

Setelah Peristiwa 9/11, identitas Muslim biasanya diklasifikaskan ke dalam dua kategori: moderat dan radikal. Dalam beberapa hal, kategorisasi tersebut memang politis, dan cenderung terkesan hitam-putih: jauh dari cukup. Sehingga, dalam mendefinisikan kecenderungan Muslim di Indonesia, Martin van Bruinessen menawarkan lima kategori identitas: konservatif, progresif, liberal, fundamentalis, dan Islamis.

Tiga yang pertama biasanya dimasukkan ke dalam kelas Islam Moderat, dua sisanya masuk ke kelas Islam Radikal. Titik temu antara dua kelas tersebut ada pada fluiditas Islam konservatif. Bagi van Bruinessen, Indonesia pasca-reformasi adalah Indonesia dengan wajah Islam yang makin konservatif.

Secara sederhana, konservativisme Islam menawarkan penerjemahan nilai, prinsip, dan hukum Islam secara rigid dan kadang, tekstual. Sebagian di antaranya menunjukkan kecenderungan untuk closed-minded, sehingga menghasilkan single narrative. Single narrative adalah kecenderungan untuk menerjemahkan situasi/kondisi hanya dari satu sudut pandang saja.

Dalam konteks Indonesia, gejala single narrative dapat dilacak, setidaknya, dari (1) kekurangmampuan seorang Muslim untuk melihat Indonesia sebagai negara yang bukan untuk umat Islam saja, (2) kekurangmampuan menyadari privilege yang dirasakan Muslim sebagai mayoritas, dan (3) kurangmampu mengapresiasi suara kaum minoritas.

Biasanya, goal dari kampanye mereka adalah syariah-isasi NKRI. Bahwa Indonesia harus diatur oleh hukum Islam, syukur-syukur oleh khilafah. Diskursus konservativisme Islam semakin menguat karena ditunjang oleh menjamurnya ustaz-ustaz di sosial media yang berkecenderungan Salafi Wahabi dan/atau skripturalis, tekstualis lainnya.

Penguatan ekspresi konservativisme ini bukannya tanpa konsekuensi. Selain mampu memperkuat kemungkinan symbolic violence, ia juga berpotensi ‘mengancam’ kodrat keberagaman Indonesia—memunculkan intoleransi beragama.

Itu sebabnya, ketika Nahdlatul Ulama berkomitmen mengkampanyekan ‘Islam Nusantara’, salah satu goal-nya ya untuk mereduksi kecenderungan konservativisme itu. Setidak-tidaknya, menguatkan kemampuan kita merekognisi saudara-saudara yang minoritas.

Dan oleh sebab posisinya ini, NU kerap diserang. ‘Islam Nusantara’ pun kena imbasnya—ia dianggap sebagai proyek liberalisasi sekulerisasi di tubuh NU. Pecah kongsilah NU, muncullah barisan sakit hati yang merasa paling lurus: NU Garis Lurus.

Sekarang, kita taruh dulu persoalan NU dan NU Garis Lurus. Kita kembali kepada fenomena ustaz di sosial media. Biasanya, ustaz yang digilai pengguna sosial media bukanlah ustaz yang berasal dari kalangan tradisionalis atau NU Kultural. Sejak lama orang-orang media dan televisi menganggap ustaz dan kiai NU, ‘kurang laku’ untuk pangsa pasar TV dan sosial media.

Ustaz yang muncul biasanya dari kalangan Islam Kota yang pro Islam Politik, dari kalangan artis yang tiba-tiba hijrah, dari kalangan Salafi Wahabi, dan ustaz-ustaz yang berkecenderungan konservatif. Karena di Indonesia, Islam Liberal dimaknai sebagai satu langkah menuju kekafiran.

Sayangnya, ustaz-ustaz ini juga kerap dianggap tidak mumpuni dalam persoalan agama dan hanya mengandalkan popularitas dan kemampuan public speaking. Istilah ‘Ustaz Google’ kerap digunakan untuk melabeli mereka. NU, sebaliknya, dengan basis pesantren yang kuat, dengan sanad keilmuan yang terjaga, mempertegas diri sebagai gudangnya ‘ustaz’ (walau istilah ustaz tidak terlalu NU) dengan kedalaman ilmu agama yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian tenarlah Ustaz Abdul Somad (UAS), lulusan Mesir dan Maroko, ahli hadist, dosen di UIN Suska Riau. Dengan kefasihan dan kedalaman hafalannya, UAS seperti tahu jawaban segala macam persoalan umat, lengkap dengan dalil dari pelbagai sumber.

Yang disadur oleh UAS bahkan tidak hanya ulama dari kalangan mazhab Syafi’i tetapi juga ulama dari mazhab lain, termasuk juga ulama-ulama Salafi Wahabi seperti al-Albani dan Abdullah bin Baz. Dalam bukunya yang berjudul 37 Masalah Populer, UAS seccara gamblang menjeaskan ijtihad dan ikhtilaf, dan bagaimana umat tidak boleh saling menyalahkan, mengkafirkan.

Fakta bahwa UAS sempat menjadi Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU Riau (2009-2014) sempat (setidaknya bagi saya) menawarkan angin segar bahwa diskursus Islam moderat (tradisionalis!) sekarang ‘punya jagoan’ di ranah sosmed dan pop culture.

Tetapi menariknya, dalam salah satu ceramahnya, UAS sempat mengomentari tuduhan penistaan agama oleh Ahok, dan dia bilang bahwa hanya ada tiga ulama NU yang layak untuk diikuti. Ketiganya adalah: KH. Luthfie Bashori, KH. Idrus Romli, dan Buya Yahya.

Ketiganya adalah ‘pejabat teras’ NU Garis Lurus, NU yang struktur kepengurusannya tidak bercita-rasa NU sama sekali, alih-alih lebih mirip FPI. Ini agak menyedihkan, sebetulnya, karena dengan pendapat tersebut, UAS sudah mengkhianati pendapatnya sendiri tentang ijtihad dan ikhtilaf.

Sejak statement tersebut, UAS kemudian kerap dibenturkan dengan NU. Jika kita mendekonstruksi pendapat UAS tentang NU Garis Lurus, maka NU non Garis Lurus secara tidak langsung akan dianggap sebagai NU yang sudah terkontaminasi sekularisme, liberalisme, dan Syiah.

Jika NU memilih untuk teguh menenangkan masyarakat yang mudah dikompori-diprovokasi, UAS secara tegas mendukung Aksi Bela Islam sebagai aksi yang menunjukkan bahwa umat Islam tidak lemah sehingga non-Muslim alias ‘kafir’ jangan main-main.

Dalam konteks kebangsaan, UAS seperti melihat bahwa Indonesia dibangun, terutama oleh umat Islam. Sehingga umat Islam layak diprioritaskan. Gejala single narrative. Pun dalam menerjemahkan sila pertama Pancasila, UAS menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Allah dan bukan ‘Tuhan Batu, Tuhan Kayu, Tuhan Hantu’, yang dalam beberapa hal berpotensi menyinggung konsep ketuhanan agama lain yang diakui di Indonesia (lihat: https://www.ngelmu.co/ustadz-abdul-somad-lc-akan-dipolisikan/). Tak heran kemudian UAS ditolak di Bali dan dideportasi di Hongkong.

Sialnya, pencekalan dan deportasi tersebut digunakan untuk membenturkan UAS dengan NU, menumbuhkan kesan bahwa NU memang benar-benar sudah terkontaminasi dan tidak lagi lurus. Dengan mengoptimalkan popularitas UAS, disokong oleh identitasnya sebagai seorang tradisionalis dengan latar keilmuan yang tidak diragukan, diskursus konservativisme Islam (terutama) di sosial media seperti mendapat angin segar; punya jagoan baru.

Itu sebabnya sebagian kalangan meyakini bahwa UAS mampu mengubah peta pertarungan Islam Kultural dan Islam Politik di Indonesia. Tapi untuk menganalisa itu saya perlu ruang lain. Mungkin di tulisan berikutnya. Insya Allah.

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: http://kaltim.tribunnews.com/2018/01/16/ustadz-abdul-somad-bakal-dukung-sosok-ini-jadi-calon-presiden-di-2019 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus