Muslim Milineal Suarakan Toleransi dan Perdamaian

Comments 127 Views Views


Muslim Milineal Suarakan Toleransi dan Perdamaian

SIPerubahan – Anak-anak muda muslim dari kalangan generasi milenial (kelahiran tahun 1980 hingga 1995) membentuk gerakan masyarakat untuk menyuarakan kembali semangat toleransi dan perdamaian. 

Gerakan itu sepatutnya disertai pemberdayaan sosial bagi sesama anak muda. Pendekatan yang menekankan terhadap aspek ideologis saja tidak dianggap memberi jalan keluar bagi generasi milenial. Nampaknya, dibutuhkan aksi nyata yang berdampak langsung dirasakan di masyarakat. 

“Kewirausahaan sosial merupakan jalur yang strategis karena selain memberdayakan individu dan masyarakat juga memperkuat jaringan,” demikian kata pendiri gerakan Muslim Milenial Romzi Ahmad, dalam acara ‘Platform Muslim Milenial Sebagai Gerakan Kebangsaan’, di Jakarta, baru-baru ini. 

Dalam gerakan tersebut, para anak muda bisa saling berbagi pengetahuan atau ketrampilan serta bekerja sama dalam suasana yang cair, tidak birokratis, seperti dalam organisasi masyarakat. 

“Selama ini alasan anak muda terjerumus ke paham intoleransi adalah ketidakpuasan pada status mereka di masyarakat yang tidak dianggap sebagai bagian penting pemangku kepentingan dan perubahan,” ujar Romzi yang juga aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. 

Sementara itu, pendiri Muslim Milenial yang juga aktif dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah, Subhan Setowara menuturkan, beasiswa bagi anak-anak muda pembawa perubahan itu bisa berupa jejaring dengan pihak-pihak yang bisa membantu pemberdayaan di akar rumput. 

“Bentuknya bisa koneksi dengan pemilik modal, mendatangkan pelatih, ataupun jejaring pegiat dan pakar yang bisa menambah ilmu mereka,” tuturnya. 

Di sini anak-anak muda muslim berkesempatan mengenal kebhinekaan (keberagaman) masyarakat Indonesia. Subhan menambahkan, pesan toleransi akan tersampaikan secara organik melalui interaksi personal bukan melalui ceramah. Pengalaman itu juga akan membuka wawasan kaum muda Muslim Milenial.

Di tempat dan kesempatan berbeda, Peneliti Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta, Didin Syafruddin mengungkapkan, generasi milenial menyukai kebebasan dan interaksi yang bersifat cair. 

Konsep ini yang dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi masyarakat Islam. Yang mana mereka masih mengandalkan sistem pengkaderan yang meminta anak muda menjadi anggota organisasi tersebut. 

“Generasi muda yang menginginkan perubahan tidak puas hanya menjadi anggota. Mereka ingin terlibat aktif bukan sekedar menerima perintah dari pemimpin. Muslim milenial mulai melihat bahwa dunia tidak hanya lingkungan sekitar tetapi di luar batas geografis dan kebangsaan seseorang,” urainya melanjutkan. 

Didin kembali mengatakan idelogi toleransi sebenarnya sudah ada dalam sistem berbangsa dan bernegara, tetapi sering dilupakan karena tertutup kepentingan sosial, politik, dan ekonomi. Gerakan anak muda merupakan faktor penting untuk mengembalikan ingatan masyarakat tentang semangat persatuan yang merupakan budaya Indonesia. 

Sekedar informasi, Muslim Milenial merupakan gerakan masyarakat yang bertujuan memperluas dan mempererat jaringan anak-anak muda Muslim di Nusantara, terlepas dari latar belakang suku bangsa, golongan, dan organisasi masyarakat yang diikuti. 

Jadi gerakan Muslim Milenial sebagai wujud kewirausahaan sosial juga memberikan beasiwa kepada  anak-anak muda yang sudah memberikan perubahan positif di tempat asal masing-masing. Perubahan itu bisa berupa pemberdayaan ekonomi, peningkatan literasi masyarakat, advokasi kesehatan, kesenian hingga religi.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus