Wajar, Pertemuan PSI dan Presiden di Istana Negara

Comments 208 Views Views


Wajar, Pertemuan PSI dan Presiden di Istana Negara

SIPerubahan - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan partai yang diprakasai oleh para mantan presenter atau reporter TV  seperti Grace Natalie, Isyana Bagoes Oka, dan Nova Rini.  PSI menjadi partai yang merekrut kaum muda atau generasi milineal dengan membawa harapan dan semangat baru.

Awal pembentukan PSI banyak yang meragukan atau meremehkan. Anggota partai ini rata-rata berpendidikan sarjana sekaligus mapan secara pekerjaan. Dengan visi-misi partai yang bersih dan transparan, partai ini membetot para generasi muda untuk menjadi anggotanya.

Lihat saja dalam menyeleksi calon wakil rakyatnya, PSI  menggunakan metode fit and proper test yang melibatkan para akademisi kredibel dan terbuka. Hasilnya diumumkan secara online. Boleh dikatakan, rata-rata anggota PSI adalah anak-anak muda yang melek dunia digital dan terpelajar.

PSI bisa dibilang partai baru yang tidak mengalami kendala dalam proses verifikasi administrasi atau faktual. Partai ini dinyatakan lolos oleh KPU sebagai partai baru peserta pemilu. Tentu ini menjadi kabar gembira bagi jajaran petinggi PSI dan anggotanya.

Pasca dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2019, PSI mendukung Joko Widodo sebagai calon presiden. Sejak itu, PSI mendapatkan cibiran dari lawan politiknya. 

Patut diketahui, presiden mengundang PSI ke Istana lantaran partai ini mengajukan atau mengirimkan surat untuk bisa bertemu dengan Presiden Jokowi melalui Sekretariat Negara. Jadi melalui prosedur dan administrasi yang sesuai, tidak melalui jalan pintas (hak privillage). Jadi tidak diistimewakan.

Sebagai partai baru yang berisi generasi muda,  bertemu dengan presiden merupakan hal wajar karena belum banyak pengalaman. Jika dalam pertemuan itu ada dialog atau yang sifatnya memberi wejangan kepada anak muda, tentu hal yang wajar atau lumrah.

Pertemuan PSI dengan Presiden Jokowi mendapat komentar atau tanggapan negatif dari lawan politik. Ketua Umum PSI Grace Natalie menceritakan,  pertemuan mereka di istana membahas berbagai hal,  salah satunya dukungan politik PSI kepada Jokowi. 

Pastinya hal ini menimbulkan tanggapan atau komentar negatif dari lawan politik Jokowi yang mengatakan tidak etis membahas politik di Istana dan dianggap menyalahgunakan jabatan sebagai presiden. Padahal, ini hal yang wajar saja, presiden menerima anggota partai di Istana dan membahas topik-topik terhangat. 

Karena sebelum-sebelumnya, Presiden Jokowi juga sering menerima ketua umum partai lainnya. Seperti Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum Nasdem Surya Paloh, Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, dan lain-lain. Berita ini menjadi ramai karena partai yang datang ke Istana, yaitu PSI memberikan dukungan kepada Presiden Joko Widodo untuk menjadi calon presiden 2019.

Akibat pertemuan PSI dengan presiden Joko Widodo di Istana negara, partai ini dilaporkan oleh Advokat Cinta Tanah Air (ACTA). Organisasi ini melaporkan pertemuan antara PSI dan Jokowi di Istana Negara dianggap sebagai pelanggaran administrasi dan dilaporkan ke Ombudsman RI.

Untuk diketahui, Advokat Cinta Tanah Air adalah lembaga advokat yang dikomandoi Habiburokhman yang juga menjadi anggota Partai Gerindra dan memang sepak terjangnya suka melaporkan pihak-pihak lain, terutama pemerintah.

Bahkan anggota Ombudsman, Alvin Lie merasa heran atas laporan ACTA karena dalam laporannya ACTA tidak menyertakan terlapor. Yakni, instansi atau  nama seseorang. Menurut Alvin Lie, standar prosedur yang ada, pelapor harus melampirkan pihak yang dilaporkan. “Tidak bisa dong, yang dilaporkan harus jelas instansi dan  pejabat yang dilaporkan. Itu namanya bukan laporan, itu curhat namanya,” tegas Alvin Lie. 

Sementara itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo menegaskan, pertemuan antara PSI dengan Jokowi di Istana Kepresidenan tidak ada masalah. Pertemuan itu menuai pro dan kontra lantaran disebut membicarakan pilpres di sela-sela jam kerja presiden. “Memang masalahnya di mana Istana menerima PSI? Memang kalau ngundang yang lain, nggak ngomongin itu?,” kata Bambang dengan nada heran di Gedung DPR RI, Jakarta Selatan, baru-baru ini. 

Kedewasaan Berpolitik

Pendiri Sanggar Pembelajaran Kerakyatan Jaya Suprana menuturkan, yang mendukung memuji pertemuan Presiden Jokowi dengan PSI sebagai contoh peristiwa politik penting yang mencerminkan kedewasaan berpolitik di Tanah Air. Yang tak setuju menganggap pertemuan tersebut layak diberi ‘kartu kuning’ akibat merupakan indikasi keberpihakan seorang Presiden kepada parpol tertentu yang rawan dituduh sebagai suatu pelanggaran kode etik politik.

Namun suasana pro dan kontra itu sendiri merupakan indikasi makin mantapnya kehadiran demokrasi yang memberikan kebebasan berpendapat dan mengungkap pendapat bagi seluruh warga Indonesia.

Menurut Jaya, pertemuan Presiden Jokowi dengan PSI di Istana Merdeka, pada hakikatnya merupakan peristiwa wajar belaka. Jangankan partai politik, sebuah kelompok masyarakat jelata sederhana informal seperti Paguyuban Punakawan pun juga ditemui Presiden Jokowi, bahkan dijamu makan siang bersama sampai sekitar dua jam di Istana Merdeka. Ini  sebagai bukti sikap keterbukaan mantan Wali Kota Solo dan Gubernur Jakarta ini.

Jokowi mirip Gus Dur dalam hal tanpa pandang bulu. Selalu terbuka dengan senang hati menerima siapa saja, termasuk para parpol atau tokoh yang mencalonkan diri ikut bertarung di Pemilu 2019. Maka parpol lain tidak perlu iri apalagi sinis terhadap peristiwa Presiden Jokowi menerima DPP PSI di Istana Merdeka. Silakan parpol yang ingin berjumpa Presiden Jokowi menulis surat permohonan menghadap Presiden Jokowi di Istana Merdeka.

Apabila tidak ada halangan seperti ketidakcocokan jadwal atau ada pihak tertentu sengaja atau tidak sengaja menghalang-halangi, sehingga surat permohonan "menguap" akibat tidak sampai ke Presiden Jokowi, saya meyakini Presiden Jokowi siap dengan parpol mana pun untuk berjumpa dan berbincang di Istana Kepresidenan.

Jaya kembali mengungkapkan soal kepribadian budi pekerti Jokowi. Putera Solo ini senantiasa menganggap dirinya sebagai abdi rakyat Indonesia berdasar kesadaran, rakyat yang memilih dirinya untuk duduk di tahta kekuasaan. Jokowi bukan tipe kacang lupa kulit.

“Seorang tetangga Jokowi di kota Solo sempat berkisah kepada saya bagaimana dia merasa sangat terharu sebab meski Jokowi sudah menjadi presiden yang bertahta di singgasana kekuasaan tertinggi, namun Jokowi menyempatkan diri jauh-jauh datang dari Jakarta ke Solo untuk menghadiri upara pernikahan anak sang tetangga yang sama sekali bukan seorang pejabat tinggi kepemerintahan itu,” jelas Jaya menutup pembicaraan.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus