Pengurus Partai Berkarya Lahirkan Kontroversi

Comments 138 Views Views


Pengurus Partai Berkarya Lahirkan Kontroversi

SIPerubahan - Kemunculan Partai Berkarya sebagai peserta Pemilu 2019 memicu kontroversi lantaran begitu kental dengan penguasa Orde Baru, Soeharto. Kontroversi partai di bawah pimpinan Tommy Soeharto ini berlanjut ketika muncul nama Muchdi Purwoprandjono dan Pollycarpus Budihari Priyanto.

Nama Muchdi dan Pollycarpus pernah mencuat terkait kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia (HAM), Munir Said Thalib pada 7 September 2004. Munir meninggal di pesawat, dua jam sebelum mendarat di bandara Schiphol, Belanda. Hasil pemeriksaan tim forensik Belanda menemukan adanya racun arsenik di tubuh Munir.

Hingga sekarang, kasus pembunuhan Munir belum terungkap sepenuhnya. Langkah, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) yang mendesak agar dokumen hasil investigasi kematian Munir dibuka, kandas di Mahkamah Agung.

Muchdi, mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN), sempat menjadi terdakwa pembunuhan Munir. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan Muchdi tak terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir. Hakim pun menyatakan Muchdi tidak bersalah dan membebaskan dari segala tuduhan.

Sedangkan, Pollycarpus merupakan pilot Garuda Indonesia ketika pembunuhan Munir itu terjadi. Pollycarpus pun dinyatakan bersalah divonis 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

Hukuman Pollycarpus dikurangi menjadi 14 tahun penjara melalui Peninjauan Kembali (PK). Dengan berbagai remisi, Pollycarpus hanya menjalani masa tahanan delapan tahun dan bebas pada 29 November 2014.

Dalam situs resmi Partai Berkarya, Muchdi tercatat sebagai Ketua Dewan Kehormatan. Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Andi Picunang menerangkan, Muchdi tidak memiliki latar belakang sejarah yang bermasalah, termasuk dalam kasus pembunuhan Munir.

Sebelum Partai Berkarya, Muchdi pernah mendirikan Partai Gerindra dan menjadi wakil ketua umum. Pada 2011, Muchdi mundur dari Gerindra dan bergabung dengan PPP.

Di Pada Pilpres 2014, Muchdi mendukung Joko Widodo-Kalla. Setelah pemilu usai, Muchdi bergabung dengan partai besutan Tommy Soeharto, Partai Nasional Republik yang menjadi cikal bakal Partai Berkarya.

Untuk diketahui, Partai Berkarya didirikan pada 15 Juli 2016 dan lolos menjadi peserta Pemilu 2019 dengan nomor urut 7. Partai ini ternyata menyatukan Muchdi dengan Pollycarpus.

Andi mengakui Pollycarpus sebagai anggota Partai. Menurut Andi, Pollycarpus terjaring sebagai anggota Partai Berkarya saat verifikasi KPU. Andi menegaskan, Pollycarpus memiliki hak politik.

Anggaran dasar dan rumah tangga Partai Berkarya mencantumkan empat syarat bagi anggotanya yaitu berusia 17 tahun atau sudah menikah; setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; menerima, menyetujui, dan menaati anggaran dasar dan anggaran rumah tangga; serta mengajukan permohonan secara tertulis untuk menjadi anggota.

Persyaratan menjadi anggota tak memerlukan catatan hukum masa lalu. Namun, riwayat pidana baru masuk sebagai syarat bagi anggota yang menjadi pengurus.

Di antara enam syarat menjadi pengurus itu, poin terakhir menyebutkan bahwa persyaratan pengurus tidak tercela dan tidak pernah melakukan tindak pidana yang dapat merugikan nama baik partai. 

Terpisah, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Andriyani menuturkan, hingga saat ini aktor intelektual dibalik kematian Munir belum berhasil diungkap oleh penegak hukum. Yati juga menambahkan, Pollycarpus hanya salah satu pelaku di lapangan yang bertugas melaksanakan perintah mengeksekusi Munir.

Dengan bergabungnya Pollycarpus dan Muchdi dalam partai yang sama, tegas Yati, memperkuat fakta, keduanya berkonspirasi dalam pembunuhan Munir. Aktivis KontraS ini melanjutkan, kembalinya orang-orang yang diduga kuat terlibat dalam kasus pelanggaran HAM, merupakan upaya secara sistematis untuk mengahalang-halangi proses pengungkapan kasus HAM masa lalu. Dia menerangkan, fenomena ini juga memberikan dampak tersendiri dalam proses penegakan hukum ke depannya. Bagaimana kiprah Partai Berkarya di Pemilu 2019?Kita tunggu saja, yang jelas rekam jejak kepartaian di Indonesia mencatat tidak mudah bagi partai politik baru mengambilnperan dalam penggung politik nasional.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus