UAS, Nur Muhammad, dan Masa Depan Islam Politik


UAS, Nur Muhammad, dan Masa Depan Islam Politik

Di antara hal menarik yang terjadi di seputar melesatnya popularitas Ustaz Abdul Somad (UAS) adalah anggapan bahwa beliau telah menghina Nabi Muhammad, secara implisit tidak meyakini kerahmatan nur Muhammad. Anggapan tersebut muncul menyusul tersebarnya potongan video ceramah UAS di Muktamar HTI di Riau per Agustus 2017, walau organisasi yang bersangkutan telah dibubarkan Pemerintah per Juli 2017 melalui Perppu Ormas Nomor 2 Tahun 2017.

UAS sendiri telah melakukan klarifikasi dan merasa bahwa potongan video tersebut tidak merepresentasikan keseluruhan konten ceramah yang ingin beliau sampaikan. Secara tegas beliau mengingatkan netizen bahwa bertahun-tahun beliau mempelajari hadits di Maroko, pulang ke Indonesia mengajar hadits, agak lucu kalau beliau secara penuh kesadaran menghina dan melecehkan Nabi Muhammad. Dan memang, saya merasa beliau tidak dalam rangka menghina Nabi, alih-alih, sedang melakukan rasionalisasi dan justifikasi atas instrumentalitas khilafah dan tegaknya Islam Politik.

Tetapi, bagaimana bisa? Mari kita lihat. Pertama, UAS menganggap bahwa rahmatan lil ‘alamiin belum bisa terwujud di masa awal Islam karena Nabi hanya saleh untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Kedua, bagi UAS, rahmatan lil ‘alamiin juga tidak bisa diwujudkan selama 13 tahun fase Mekah karena penyiksaan, intimidasi, dan tekanan oleh Quraisy melemahkan komunitas Muslim. Bahkan ketika orang-orang kaya masuk Islam, rahmatan lil aamiin itu tetap tidak bisa dimanifestasikan. Rahmat-nya Islam masih terbatas, tidak berkembang. Masih embrio, jauh dari matang.

Argumentasi UAS ini menselisihi keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmatan lil ‘alamiin itu sendiri. Bukan hanya setelah turunnya wahyu, bahkan ketika Allah baru menciptakan ‘nur’ beliau SAW. Ketika belum ada satupun makhluk yang diciptakan! Kenapa nur Muhammad dianggap sebagai rahmatan lil ‘alamiin? Karena ia menjadi ‘alasan’ Allah menciptakan makhluk. Ada adagium yang berbunyi: laulaka laulaka lama khalaqtul aflak, jika bukan karenamu, wahai Muhammad, firman Allah, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini. Lalu bagaimana bisa seseorang menihilkan rahmat besar itu dan menganggap bahwa kontribusi Nabi bagi kemanusiaan dan alam semesta nihil semata selama kurun masa Mekah karena Nabi hanya saleh untuk dirinya sendiri dan keluarganya? Hanya karena pada masa itu Nabi serta sahabat terintimidasi sepanjang waktu?

Tetapi, kita tahu bahwa UAS tidak memiliki intensi untuk menapikan nur Muhammad, dan/atau kemuliaan Nabi Muhammad. Yang ingin disampaikan UAS melalui narasi yang ia bangun tersebut adalah bahwa, menurutnya, rahmatan lil alamiin itu hanya bisa terwujud melalui tegaknya khilafah, dan, untuk mengutip kalimat UAS-nya sendiri, “bukan dengan kenabian bukan dengan al-Qur’an di tangan”. Implikasi dari pernyataan tersebut beragam. Pertama, rahmatan lil alamiin sebagai produk kekuasaan, produk kebijakan politik Nabi sebagai Pemimpin Negara Madinah. Bahwa Nabi baru bisa membumikan rahmat melalui perannya sebagai Kepala Negara dan bukan dalam perannya sebagai Nabi, dan bukan karena di tangannya ada wahyu. Ini menarik, problematis, dan kontroversial.  

Atau, kedua, bahwa rahmatan lil alamiin ini memang disumbangsihi oleh kenabian dan wahyu al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, tapi keduanya akan tidak maksimal (atau ‘sia-sia’ semata) jika tidak disokong oleh kekuasaan di tangan Nabi. Bukti yang disajikan biasanya adalah komparasi 10 tahun Madinah versus 13 tahun Mekah di mana walaupun fase Madinah lebih sebentar, sumbangsihnya terhadap perkembangan Islam yang akseleratif tidak bisa dinafikan. Itu semua, dalam kacamata UAS, disebabkan dominasi politik Nabi.

Implikasi ketiga, penekanan masa Madinah sebagai masa pembumian rahmatan lil alamiin menegaskan asumsi UAS bahwa kepemimpinan Nabi di Madinah adalah bentuk perwujudan dari khilafah. Dan dalam menyebut khilafah, konsep yang diyakini sepertinya lebih ke konsep khilafah ala HTI, dan bukan khilafah sebagaimana yang diyakini Cak Nun. Padahal, bagi saya, agak sulit untuk menganggap sistem pemerintahan Nabi di Madinah sebagai ‘sesuai’ dengan ideal khilafah HTI. Saya justru merasa, dalam satu dan lain, konsep kepemimpinan Nabi di Madinah bercorak musyawarah untuk mufakat demi keadilan sosial bagi seluruh masyarakat terlepas apapun agama dan sukunya—dengan kata lain: filosofi demokrasi yang diyakini bangsa Indonesia.

Thus, asumsi manapun yang diambil, yang hendak ditegaskan UAS tetap sama: perlunya memanifestasikan Islam ke dalam politik. Dengan kata lain: mewujudkan Islam dalam kehidupan sosio-kultural dan ekonomi itu tidak (akan pernah) cukup. Dengan popularitasnya yang demikian tinggi, kapabilitasnya yang ‘tidak diragukan’, serta dukungan yang besar dari jemaah (aka fans)-nya, sepak terjang UAS memang berpotensi mengubah peta pertandingan (katakanlah demikian) antara Islam Kultur dengan Islam Politik. Kenapa?

Pertama, karena UAS punya identitas keduanya. UAS berlatar belakang Islam Kultur, tetapi berideologi Islam Politik. Kenapa saya menyebut UAS berlatar belakang Islam Kultur? Karena UAS sempat menjadi pengurus NU Struktural, dan menjadi bagian dari NU Garis Lurus, sedangkan NU adalah (salah satu) basis Islam Kultur di Indonesia. Kedua, dengan modal tersebut, UAS punya kapabilitas untuk merangkul Muslim Kultural untuk mendukung ide-ide Islam Politik. Ketiga, modal tersebut juga membuat UAS menjadi ‘senjata ampuh’ untuk dibenturkan dengan NU. Tak heran ketika UAS dideportasi di Hongkong dan ditolak di Bali, NU menjadi sasaran fitnah sebagai dalang.

Tetapi, apakah UAS pendukung khilafah? Belum tentu. Sejauh yang saya pahami, dukungan terhadap Islam Politik di Indonesia dimanifestasikan ke dalam, setidaknya, dua cara. Pertama, mendukung tegaknya khilafah. Kedua, mendukung lahirnya NKRI Bersyariah. HTI mengambil jalur yang awal, FPI dan yang semisalnya mengambil cara yang kedua. Lalu di mana UAS menginjakkan kakinya? 

Potongan ceramah yang membikin UAS dituduh menghina Nabi Muhammad memang ada di acaranya HTI, tetapi UAS sepertinya lebih berada di jalur kedua. Apa sebab? Januari lalu, UAS bertolak ke Arab Saudi dan memberi ceramah bersama Habib Rizieq. UAS menekankan bagaimana umat Islam harus menjaga NKRI, mempersatukannya. Bagi beliau, NKRI direkatkan oleh umat Islam. Habib Rizieq di sisi lain, mengingatkan umat untuk menjaga ulama. Beliau juga mendoakan agar UAS bisa mempersatukan umat. Dari sana, kita bisa melihat bagaimana UAS tidak melihat ideologi NKRI sebagai anti-Islam, beliau boleh jadi hanya melihat ia, perlu 'lebih' di-Islam-kan lagi.

Caranya? Ya dengan memanifestasikan Islam ke dalam politik. Pertanyaannya kemudian, apakah pemanifestasian ini, sebagaimana diklaim UAS, mampu membumikan rahmatan lil ‘alamiin? Ataukah ia, justru menjadi cikal-bakal perselisihan antar golongan sebagaimana Madinah sebelum Islam? Kita telah melihat Timteng dililit konflik akibat Islam Politik sedang ratusan tahun kita menikmati harmoni oleh sebab Islam kultur. Akan semakin menguatkah harmoni di tengah kebhinekaan kita ataukah ia akan menjadi cikal-bakal friksi-friksi horizontal yang kian lama kian besar dan tak terkendalikan? 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source foto: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180101121045-20-265874/saat-rizieq-shihab-dan-abdul-somad-duet-ceramah-di-mekkah

Post a Comments
blog comments powered by Disqus