Quo Vadis Gerakan Terorisme Global Pasca ISIS

Comments 192 Views Views


Quo Vadis Gerakan Terorisme Global Pasca ISIS

Tanggal 5 oktober 2017, pemerintah Irak mengumumkan keberhasilan mereka dalam merebut kembali Haweja, kota terakhir di Irak yang dikuasai oleh Islamic State (IS/ISIS/Daesh)). Pengumuman tentang keberhasilan operasi militer gabungan yang dilakukan oleh tentara nasional Irak (ISF), polisi federal Irak (FedPol) bersama dengan milisi bersenjata (PMU) dan dibantu oleh tentara koalisi pimpinan Amerika Serikat ini dilakukan langsung oleh Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi saat beliau berada di Paris dalam kunjungan kenegaraannya.

Dalam waktu yang tidak lama kemudian, pemerintah Suriah di bulan November juga mengumumkan keberhasilannya dalam menguasai Albu Kamal, kota terakhir di Suriah yang dikuasai oleh ISIS. Operasi militer di Suriah dilakukan oleh tentara nasional Suriah (SAA) dibantu oleh tentara dari Iran, Russia dan milisi bersenjata Hizbullah dari Libanon. Dengan dikuasainya kota-kota di Irak dan Suriah yang merupakan strongholds terakhir dari ISIS maka pemerintahan kekhilafahan yang dibentuk oleh ISIS secara praktis telah berhasil ditumpas. 

Keberhasilan kolektif dalam menumpas ISIS, sebuah self-declared caliphate secara langsung telah berdampak positif terhadap stabilitas keamanan di Irak maupun Suriah maupun global. Dari hasil pemantauan jumlah insiden keamanan yang berhubungan dengan serangan terror di Iraq dari tahun 2014 – 2017, pasca ditumpasnya ISIS menunjukkan penurunan yang sangat signifikan. Di bulan November ini misalnya, jumlah insiden keamanan yang berhubungan dengan serangan terror yang dilakukan oleh ISIS menunjukkan penurunan lebih dari 50%.

Ini berarti kemampuan ISIS secara struktur komando dan control (Command and Control) untuk melakukan terror itu sudah hancur. ISIS yang dalam 3 tahun terakhir menjadi organisasi teroris yang paling berbahaya di dunia dengan pendapatan per tahun diperkirakan sekitar 2 milyar dollar, saat ini telah kehilangan kemampuan melakukan serangan terror baik di regional maupun global. ISIS yang dulunya sangat mampu melakukan serangan ke luar (offensive), saat ini terpaksa mengambil taktik bertahan (defensive) hanya untuk bertahan hidup. 

Kalau ISIS secara struktur sudah berhasil ditumpas maka pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi dengan gerakan terror global pasca ISIS? Untuk menjawab pertanyaan ini maka sangat perlu untuk membedah karakter ISIS dan juga kemampuan taktis yang dimilikinya saat berada pada puncak kejayaannya. 

Yang pertama adalah metamorfosa ISIS dan mimpi mendirikan Khilafah global. ISIS hadir dari keinginan kelompok-kelompok radikal dalam Islam yang ingin mendirikan pemerintahan berdasarkan interpretasi radikal syariat Islam di dunia, dengan memanfaatkan instabilitasi di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Terbentuknya ISIS bisa ditarik ke belakang ke masa perang mujahidden di Afghanistan melawan invasi Uni Soviet di Afghanistan di era tahun 70an sampai 80an, dimana para mujahidden dari berbagai negara di dunia berkumpul di Afghanistan karena terpanggil dalam melakukan perang suci atau jihad melawan kekuatan asing yang dianggap anti Islam.

Pasca mundurnya Uni Soviet dari Afghanistan, sebagian mujahidden di sana membentuk Taliban yang memerintah di Afghanistan dengan memakai interpretasi radikal syariat Islam. Para mujahidden lainnya kembali ke negaranya masing-masing. Masih dalam euphoria jihad, mereka bertekad untuk meneruskan perang suci melawan pemerintahan di negaranya masing-masing yang juga dianggap sebagai pemerintahan yang anti Islam, termasuk di Indonesia. Di Yordania, terbentuklah Jund al-Syam di akhir tahun 80a yang kemudian berubah menjadi Jamaah Tauhid Jihad (JTJ) di tahun 90an. Instabilitasi di Irak pasca runtuhnya rezim Saddam Hussein di Iraq dan instabilitas di Suriah pasca revolusi Arab Spring secara tidak langsung menciptakan kondisi yang mendukung metamorfosa JTJ menjadi Al-Qaida di Iraq (AQI) yang kemudian berubah menjadi ISIS. 

Yang kedua adalah proliferasi taktik dan strategi perang asimetris di perkotaan (asymmetrical warfare in urban environment). Pada puncak kekuasaannya di Irak dan Suriah, ISIS menguasai hampir 25 persen wilayah Iraq dan sekitar 25 persen wilayah Suriah yang didominasi oleh daerah-daerah dengan struktur kota modern, dengan bangunan-bangunan bertingkat dan gang-gang kecil. Dalam pertempuran-pertempuran yang dilakukan oleh ISIS untuk menguasai daerah-daerah ini, mereka secara natural para kombatan-kombatan ISIS menjadi terlatih untuk melakukan taktik perang kota baik saat mereka merebut satu daerah, maupun saat mereka mempertahankan daerah tersebut.

Di Mosul misalnya, ISIS secara strategis memakai kombinasi bom-bom mobil, pembunuh-pembunuh diri dengan rompi berbahan peledak dan dibantu oleh penembak-penembak jitu untuk merebut dan mempertahankan sedikiti demi sedikit kota yang ingin mereka kuasai, termasuk menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup. Kemampuan perang asimetris di daerah perkotaan padat penduduk ini tidak dimiliki oleh tentara Iraq sehinggal membuat operasi perebutan kembali kota Mosul menjadi sangat lambat saat perang memasuki wilayah perkotaan. Disisi lain, ISIS mengeluarkan sumber dana yang cukup besar untuk mengembangkan metode pembuatan bahan peledak yang mampu lolos dari deteksi dengan tujuan bisa dipergunakan untuk melakukan terror di berbagai sasaran global. Analisa lapangan menunjukkan bagaimana metode dan taktik yang dikembangkan oleh ISIS ini dibagikan ke jaringan-jaringan ISIS dan organisasi-organisas terroris di luar negeri. 

Dari analisa karakteristik ISIS dan kemampuan taktis mereka maka bisa diambil kesimpulan sebagai berikut: 

Yang pertama adalah bahwa sepanjang masih ada mimpi untuk mendirikan kekhilafahan secara global yang berdasarkan pada pemahaman radikal syariat Islam, maka akan ada gerakan-gerakan terrorisme baru atau neo-terrorism sebagai metamorfosa pasca ISIS. Dalam jangka pendek, para mantan kombatan ISIS akan mencari wadah baru untuk tetap meneruskan ide mereka dalam membentuk khilafah global dan kemungkinan besar mereka akan kembali bergabung dengan Al-Qaida. Ini akan membuat Al-Qaida kembali menjadi organisasi teroris global yang paling berbahaya, setelah posisi tersebut diambil alih oleh ISIS. Lebih dariada itu, Al-Qaida sebagai organisasi teroris yang sejak awalnya mengedepankan penetrasi ideology yang dibarengi dengan taktik perang asimetris akan mendapatkan durian runtuk dari para kombatan ex-ISIS yang kaya akan pengalaman tempur, terutama perang asimetris di perkotaan. 

Yang kedua adalah akan ada perubahan strategi dalam mencapai tujuan menciptakan kekhilafahan global tersebut. ISIS mengalami keruntuhan dengan cepat karena dia terlalu cepat menjadikan dirinya sebagai ancaman di kawasan regional Timur Tengah, maupun global. Taktik pasca ISIS akan didominasi oleh gerakan-gerakan laten yang minim konfrontasi fisik dan lebih mengutamakan penetrasi ideologi berdasarkan pemahaman radikal syariat Islam. Berbeda dengan ISIS yang mengeksploitasi instabilitas yang tengah terjadi di suatu wilayah yang mayoritas penduduknya adalah muslim, gerakan-gerakan terorisme baru (neo-terrorism) ini akan berusaha menciptakan instabilitas di daerah-daerah dengan mayoritas penduduk muslim, termasuk di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengambil alih kekuasaan lewat kudeta tak berdarah (bloodless coup) dari pemerintahan setempat yang selalu dianggap sebagai penghambat berdirinya kekhilafahan global. 

Penetrasi ideologi berdasarkan pemahaman radikal syariat Islam ini akan dibarengi dengan kegiatan serangan-serangan terror dengan target domestik, sesuai wilayah yang dikuasainya. Dalam kondisi ini, warga negara tertentu dan/atau fasilitas yang menjadi symbol negara tertentu, terutama negara-negara barat, akan bukan lagi menjadi sasaran utama. Sebaliknya, symbol-simbol dan tokoh dari negara dimana gerakan terorisme baru tersebut mau dikembangkanlah yang akan menjadi sasaran utamanya. Perubahan sasaran serangan asimetrik ini akan dilakukan secara terencana dengan baik alias smart and surgical untuk menciptakan kondisi yang mendiskreditkan pemerintahan setempat, termasuk persepsi bahwa pemerintahan setempat tidak mampu. Disinilah kemampuan taktis perang asimetris di perkotaan itu akan dipakai oleh gerakan-gerakan terorisme baru ini. 

Yang patut diingat adalah bahwa tujuan utama dari gerakan-gerakan terror yang memakai interpretasi radikal syariat Islam itu bukan membunuh orang yang sebanyak-banyaknya. Tujuan utama dari gerakan terror ini adalah untuk menciptakan kekhilafahan secara global. Dengan demikian maka apabila kekerasan tidak efektif maka penetrasi ideologilah yang akan akan menjadi ujung tombak gerakan terror tersebut, dan sasaran utamanya adalah negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia. Dengan demikian maka Indonesia sangat berpotensi menjadi salah satu target yang sangat krusial bagi gerakan-gerakan terorisme baru atau neo-terrorism dalam penggunakan taktik penetrasi ideology dimaksud. 

Pada akhirnya, sebagaimana ideologi tidak mungkin dilawan dengan kekerasan karena ideologi hanya bisa dilawan dengan ideology pula maka adalah tugas kita bersama untuk memperkuat ketahanan nasional berdasarkan ideology Pancasila yang menjamin kehidupan yang berbhineka, sebagai alat utama dalam melawan ideology kekhilafahan global yang berdasar pada interpretasi radikal syariat Islam, seperti yang dipakai oleh ISIS. 

Alto Labetubun, ST, MIS. 

Penerima Beasiswa Australian Development Scholarship 2007; Lulusan Master of international Studies dengan spesialisasi Peace and Conflict Resolution dari University of Queensland, Australia; Seorang analis konflik dan konsultan keamanan yang sudah 9 tahun bekerja di berbagai negara konflik di Timur Tengah dan Afrika Utara dan sekarang tinggal di Iraq 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus